RSS

Arsip Bulanan: Februari 2011

Teknik Sirkumsisi dan Fungsinya sebagai Pencegahan Infeksi HPV

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bedah minor merupakan tindakan operasi ringan yang biasanya dikerjakan dengan anastesi lokal. Salah satu bedah minor adalah sirkumsisi. Sirkumsisi pada laki-laki merupakan prosedur tertua dan merupakan tindakan yang umum dilakukan pada komunitas muslim dan kristen dan beberapa kelompok etnik di Afrika sub-sahara.1 Tindakan bedah ini sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Sirkumsisi adalah tindakan pembuangan sebagian atau seluruh preputium (foreskin) penis dengan tujuan tertentu.2

Sirkumsisi pada kelompok masyarakat tertentu sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Banyak penelitian-penelitian mengenai kelebihan dan kekurangan dari tindakan bedah minor sirkumsisi. Beberapa penelitian tersebut menyebutkan mampu menurunkan penyebaran penyakit menular infeksi.3-5,7-8 Selain itu disebutkan dengan sirkumsisi mampu mencegah terjadinya kanker penis karena menghilangkan kesempatan untuk smegma tumbuh. Namun begitu American Academy of Pediatrics (APP) tidak merekomendasikan ataupun merutinkan sirkumsisi pada neonatus.1

Pada dekade terakhir ini terdapat beberapa penelitian yang menghubungkan antara sirkumsisi pada pria dengan penyebaran infeksi menular seksual. Pada sebuah studi yang dilakukan oleh Weiss, dkk3, sirkumsisi pada pria memilki indikasi yang kuat terhadap penurunan resiko chancroid dan sifilis. Penelitian ini didasari bahwa sirkumsisi berhubungan dengan penurunan resiko infeksi HIV. Studi ini merupakan review sistematik dan meta-analisis.

Selain itu pada penelitian yang lain oleh David, dkk4 menyebutkan tingginya resiko infeksi menular seksual pada laki-laki yang belum disirkumsisi. Dengan sirkumsisi mampu menurunkan resiko sampai satu setengah kali dibandingkan dengan tidak dilakukam sirkumsisi, sehingga hal ini menyarankan untuk dilakukan sirkumsisi rutin pada neonatus. Studi ini menggunakan metode analisis kohort kelahiran longitudinal.

Sedikit diketahui bagaimana efek sirkumsisi pada laki-laki mengenai penyebaran human papillomavirus (HPV). HPV menyebabkan kutil pada genital pria dan wanita, dan ini memilki hubungan dengan kanker pada servik, vulva, vagina, anus, dan penis.11 Kanker servik merupakan kanker tersering kedua pada wanita di dunia, dan sekitar 99% dari semua kasus memiliki infeksi dari genotip HPV yang onkogen.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah teknik sirkumsisi?

2. Bagaimanakah penyebaran dari penyakit infeksi oleh HPV?

3. Bagaimanakah sirkumsisi sebagai pencegahan penyakit infeksi oleh HPV?

1.3. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana teknik sirkumsisi.

2. Untuk mengetahui bagaimana penyebaran dari infeksi oleh HPV.

3. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana sirkumsisi sebagai pencegahan penyakit infeksi oleh HPV.

1.4. Manfaat

Pembuatan laporan ini diharapkan mampu memberikan bukti ilmiah mengenai sirkumsisi dengan hubungannya terhadap penyebaran infeksi oleh HPV. Dengan bukti ilmiah diharapkan mampu mengubah paradigma tenaga kesehatan dan masyarakat dalam memandang sirkumsisi. Sehingga dalam masyarakat memiliki alasan ilmiah untuk melakukan tindakan sirkumsisi.

Sirkumsisi merupakan teknik bedah minor yang sering dilakukan di masyarakat. Dengan pembuatan laporan ini diharapkan bertambah pula pengetahuan penulis mengenai teknik sirkumsisi sehingga kedepannya akan lebih mudah mempelajari prosedur ini.

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sirkumsisi

Sirkumsisi merupakan jenis operasi yang pertama kali diketahui oleh manusia. Secara sejarah prosedur ini dilakukan untuk berbagai alasan seperti alasan agama, sosial, atau keduanya. Sirkumsisi pada orang dewasa untuk penanganan phimosis telah disebutkan pada leteratur sejak awal abad 19. Namun demikian, American Academy of Pediatric (AAP) tidak merekomendasikan, dan juga merutinkan tindakan ini pada neonatus.1

Sirkumsisi pada pria menghilangkan lipatan kulit yang normalnya menutupi glans penis.2 Banyak kebudayaan memiliki sejarah menggunakan sirkumsisi sebagai alasan kebersihan atau sebagai ritual persembahan kepada Dewa. Pada akhir abad ke-19, ritual ini beralih menjadi rutinitas tindakan medis karena dipengaruhi laporan tindakan ini berhubungan dengan pengobatan yang menakjubkan untuk hernia, paralisis, epilepsi, gila, sakit kepala, dan lain-lain.

2.1.1. Indikasi

Indikasi utama untuk dilakukan tindakan sirkumsisi adalah phimosis yang patologi. Indikasi lain untuk dilakukan prosedur ini adalah paraphimosis, balanitis yang sering timbul kembali atau balanoposthitis, dan alasan sosial ataupun religi.1

Pada studi prospektif jangka panjang, 40% anak laki-laki yang dirawat untuk phimosis ditemukan memiliki Balanitis Xerotica Obliteraus (BXO), yang memiliki hubungan dengan perkembangan sel pipih karsinoma penis (penile SCC), juga menjadi indikasi relatif untuk dilakukannya sirkumsisi. Paraphimosis bukanlah sebuah penyakit yang dapat ditemui pada berbagai umur; biasanya merupakan hasil dari insiden pada preputium. Paraphimosis ini merupakan indikasi tersering kedua.1

Indikasi lain yang relatif jarang untuk dilaksanakan sirkumsisi adalah tumor kecil preputium atau kondiloma dan penile lymphedema. Pada kasus-kasus lain, sirkumsisi dilakukan pada anak laki-laki dengan Vesicourethral Reflux (VUR) yang menderita Infeksi Saluran Kemih (ISK). Pada pemasangan kateter Foley sering ditemukan masalah; hal ini biasa dijadikan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi.2

2.1.2. Kontraindikasi

Secara umum sirkumsisi tidak dilaksanakan pada bayi yang lahir prematur atau mereka yang memilki dyscrasis darah. Selain itu prosedur ini tidak boleh dilakukan pada anak dengan anomali penile kongenital seperti Hypospadia, Epispadia, Chordee, Penile Webbing, dan buried penis.1

2.1.3. Teknik Operasi

Teknik sirkumsis secara umum terdapat dua macam, yaitu Dorsal slit dan teknik Sleeve.1 Prosedur operasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pre-operatif dan intra-operatif.

2.1.3.1. Pre-operatif

Sangat penting melakukan informed-consent sebelum melakukan sirkumsisi. Berikan informasi resiko-resiko yang mungkin terjadi, diantaranya perdarahan, terbentuknya hematoma, infeksi, gangguan pada jahitan, bekas luka karena ketidaksengajaan pada uretra atau glan, dan perubahan sensasi selama berhubungan seksual. Pasien dengan balanitis harus bebas dari infeksi sebelum prosedur dilakukan.

Sirkumsisi dapat dilakukan di praktek dengan anastesi lokal atau di ruang operaasi dengan anastesi regional atau umum. Untuk pasien yang mengalami kecemasan atau kegelisahan di praktek dapat diberikan diazepam (Valium), 2-5 mg secara oral satu jam sebelum dilakukan tindakan. Dosis untuk orang dewasa adalah 2-10 mg. Sedangkan pada anak-anak tidak disarankan untuk pemeberian ini.

2.1.3.2. Intra-operatif

Pasien diposisikan pada posisi supinasi. Area genital disiapkan dengan larutan povidine-iodine. Rambut pubis biasanya perlu dihilangkan. Pada anak-anak, anastesi umum biasanya diperlukan. Untuk pasien dewasa dapat menggunakan anastesi lokal. Anastesi lokal diberikan dengan mengeblok saraf penis dorsal diikuti mengeblok ring. Anastesi lokal yang dapat digunakan adalah 0,5% bupivacaine (Marcaine) dan 1-2% lidocaine tanpa epineprin dengan perbandingan volume yang sama. Penggunaan epineprin biasanya akan menyebabkan jariangan iskemi.

Sirkumsisi Dorsal Slit

Untuk melakukan teknik Dorsal Slit, preputium di klem pada arah jam 12’ dengan dua hemostat untuk meminimalkan perdarahan seperti gambar dibawah. Pengekleman ini dilakukan selama dua menit.

Gambar 2.1

Gambar 2.1. Pemasangan Klem2

Insisi jaringan antara dua klem, tegak lurus dengan corona. Buat juga inisisi batasan di proximal.

2.2

Gambar 2.2. Insisi antara klem2

2.3

Gambar 2.3. Insisi batasan pada proximal2

Eksisi preputium pada bagian dasarnya (sekitar 1cm dari sulkus korona) dengan gunting untuk menghasilkan kosmetik yang baik. Kulit yang tersisa dibawah sulkus korona tidak boleh lebih dari 1 cm panjangnya untuk mencegah edema, perlengketan dan paraphimosis.

2.4

Gambar 2.4. Sisa kulit sedikitnya 1cm2

Ikat vena superfisial dan hentikan perdarahan dengan elektrocauter. Jahit secara melingkar batas bagian proksimal dan distal dari preputium dengan benang jahit absorbable 4,0-5,0 untuk anak-anak dan ukuran 3,0-4,0 untuk dewasa dengan jahitan interupted.

2.5

Gambar 2.5. Jahit batas sisa preputium untuk tujuan kosmetik2

Selama penjahitan gunakan jarum pipih tipis yang noncutting untuk mengurangi komplikasi trauma pada jaringan dan perdarahan.

Teknik Sleeve

Teknik Sleeve ini merupakan teknik alternatif pada sirkumsisi. Setelah melakukan anastesi, tandai preputium dengan marker. Sebelum membuat insisi awal, pastikan jumlah kulit yang akan dihilangkan dengan cara menggunakan jari telunjuk sehingga kita mendapatkan batas sulkus korona pada preputium. Berikan tanda pada daerah itu. Lakukan insisi melingkar pada bagian distal yang berada 1cm dari proksimal sulkus korona.

Saat hal ini dilakukan, sleeve preputium terbentuk antara dua insisi, dan menyisakan kulit penis tidak terlalu pendek maupun panjang.

image

Gambar 2.6. Sirkumsisi dimulai dengan membuat insisi proksimal yang melingkar. Insisi berada dibawah fascia Buck2

image

Gambar 2.7. Insisi distal dibuat 1cm dari proksimal sulkus korona2

Klem kulit yang berlebihan antra insisi sirkumsisi pada arah jam 12’ dan insisi itu.

image

Gambar 2.8. Klem sisa kulit pada arah jam 12’ dengan 2 klem dan insisi2

Angkat sleeve menggunakan electrocauter. Untuk menghentikan perdarahan dapat menggunakan cauter dan ligatur. Tepi preputium dapat dijahit dengan benang absorbable 3,0-5,0.

image

Gambar 2.9. Sisa kulit yang berlebihan diangkat2

image

Gambar 2.10. Preputium yang berlebihan telah diangkat2

image

Gambar 2.11. Tepi kulit penis dijahit2

image

Gambar 2.12. Jahitan bertujuan untuk hasil kosmetik yang baik2

2.1.3.3. Post-operatif

Setelah melakukan sirkumsisi, banyak ahli urologi menyarankan untuk tidak memakai pakaian. Namun begitu, penggunaan jeli dan kasa steril atau kasa Xeroform dapat digunakan untuk menutupi penis untuk mencegah perlengketan.

Pada pasien dewasa, harus dilakukan penghentian obat narkotik. Pasien harus menggunakan pakaian yang longgar stelah pembedahan. Untuk penyembuhan total diperlukan 4-6 minggu, sehingga tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual.

2.1.4. Komplikasi

Sirkumsisi merupakan prosedur bedah minor yang ditoleransi baik oleh banyak pasien. Walaupun demikian, komplikasi yang dapat muncul berupa perdarahan, infeksi, hematoma, pembengkakan, sakit, dan kurangnya bentuk secara kosmetik.1

Perdarahan post-operatif merupakan komplikasi yang paling sering. Infeksi setelah sirkumsisi jarang terjadi; jika terjadi dapat dirawat dengan antibiotik lokal atau oral. Uretral injuri sangat jarang terjadi; biasanya terjadi pada sirkumsisi fistula subcoronal urethrocutaneous.

Pada studi oleh Fink, et al (2002) ditemukan bahwa sirkumsisi dapat memperburuk fungsi ereksi dan menurukan sensitivitas penis. Tetapi aktifitas sexual tidak berubah dan kepuasan meningkat. Hal ini mungkin disebabkan karena berkurangnya sensitivitas penis sehingga ejakulasi terjadi lebih lama.

2.2. Infeksi Human Papiloma Virus

Infeksi Human Pappiloma virus adalah infeksi yang khusus disebabkan oleh virus Pappiloma yang menginfeksi lapisan epitelium di kulit dan di membran mukosa. Infeksi ini dapat tidak memperlihatkan gejala, menghasilkan kutil, ataupun berupa neoplasia yang jinak maupun ganas. Kondiloma akuminata merupakan manifestasi dari epidermotropic dari human papillomavirus (HPV). Lebih dari 100 tipe papovirus HPV telah dapat diisolasi saat ini. Banyak dari mereka telah dihubungkan secara langsung terhadap peningkatan resiko neoplastik pada pria dan wanita.11

2.2.1. Karakteristik Virus

Karakteristik dari HPV ini adalah merupakan virus dengan keluarga Papillomaviridae. Virus ini berbentuk isohedral dengan diameter 55 nm. Komposisi dari virus ini adalah protein sebesar 90% dan DNA sebesar 10%. HPV ini virus DNA rantai ganda yang sirkuler. Merupakan virus yang tidak berkapsul. Karakteristik lainnnya adalah mampu menstimulasi sel DNA, secara signifikan menyebabkan kanker pada manusia, seperti kanker servik. Beberapa tipe dari HIV yang lebih dikenal adalah HPV tipe 16 dan 18 yang lebih bersifat onkogen; dan tipe 6 dan 11 yang bersifat jinak.10

2.2.2. Patogenesis

Periode inkubasi dari infeksi HPV ini adalah 3-4 bulan (rentang 1 bulan sampai 2 tahun). Semua tipe epitelium pipih dapat terinfeksi oleh HPV. Repikasi virus ini berawal dari infeksi pada sel basal. Kemudian terjadi diferensiasi seluler. Selanjutnya virus ini merakit dirinya di inti sel dan melepaskan diri saat sel keratin pecah. Proses ini berhubungan dengan proliferasi dari semua lapisan epidermal kecuali lapisan basal dan produksi akantosis, parakeratosis, dan hiperkeratosis. Dilihat secara hitologi, normal epitelium tetap berisisi DNA HPV, dan residu dari DNA ini setelah perawatan dapat berhubungan dengan timbulanya kembali penyakit ini. DNA HPV yang episomal akan berada di inti sel yang terinfeksi dan akan menyebabkan lesi yang jinak.11

Respon pasien terhadap infeksi HPV masih belum jelas. Namun begitu, beberapa studi menyebutkan dengan vaksinasi akan memproduksi titer antibodi yang tinggi yang akan melindungi dari infeksi HPV.

2.3. Sirkumsisi Sebagai Sebuah Pencegahan Infeksi HPV

Batang penis dan permukaan luar dari kulit bagian luar ditutupi oleh epitel pipih berlapis berkeratin yang menyediakan perlindungan terhadap infeksi HPV. Hal yang berbeda didapatkan pada bagian dalam dari mukosa yang melapisi bagian dalam preputium. Lapisan ini merupakan lapisan mukosa yang tidak berkeratin sehingga hal ini mungkin membuatnya lebih rentan terhadap virus. Selama melakukan hubungan seksual lapisan kulit luar akan terlipat ke belakang. Hal ini akan menyebabkan permukaan mukosa bagian dalam akan berhubungan langsung dengan sekresi dari vagina. HPV mungkin dapat mencapai sel basal melalui ulcer ataupun abrasi kecil pada lapisan epitel. Penghilangan kulit bagian luar dapat meminimalkan kemungkinan masuknya virus dengan ditandai berkurangnya ukuran area yang rentan terhadap HPV dan penurunan trauma mukosa selama melakukan hubungan seksual. Glan penis yang sudah disirkumsisi akan menjadi lebih tebal dan dilapisi epitel yang membuatnya lebih tahan terhadap abrasi yang nantinya akan mengurangi kerentanan masuknya virus.9

2.3.1. Infeksi HPV Penis dan Kanker Servik

Pada studi yang dilakukan oleh Xavier, dkk (2002) mendapatkan kesimpulan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan resiko infeksi HPV pada penis dan pada sisi pria dengan riwayat pasangan multiple, menurunkan resiko kanker servik pada pasangan wanitanya sekarang. Studi ini dilakukan pada beberapa negara, yaitu Brasil, Filipina, Thailand, Kolumbia, dan Spanyol.5

2.3.1.1. Infeksi HPV pada Penis.

Secara keseluruhan odd rasio untuk infeksi penis yang berhubungan dengan sirkumsisi yang didapatkan adalah 0,37 (95% CI, 0,16-0,85). Rasio ini didapatkan setelah melakukan adjusted pada faktor umur, lokasi studi, tingkat edukasi, umur saat melakukan hubungan seksual pertama kali, jumlah pasangan, dan frekuensi mencuci area genital setelah berhubungan.5

Odd rasio untuk infeksi HPV pada pria yang disirkumsisi, dibandingkan dengan yang tidak, adalah sama jika dilakukan eksklusi pada sampel yang berasal dari Spanyol dan Kolumbia. Hal yang sama ditemukan saat dilakukan eksklusi terhadap filipina; hasil tidak berubah secara bermakna dalam statistik.

2.3.1.2. Kanker Servik

Sirkumsisi pada pria memiliki hubungan yang moderat, namun tidak signifikan, terhadap penurunan resiko kanker servik pada wanita yang diajak berhubungan seksual. Tidak ada bukti heterogen dengan lokasi dilakukan studi ini.5

Namun demikian, relasi yang berlawanan didapatkan antara sirkumsisi dan resiko kanker servik pada wanita yang memilki pasangan yang beresiko tinggi dan berhubungan seksual yang beresiko seperti melakukannya sebelum berumur 17 tahun dan memilki riwayat berhubungan dengan prostitusi. Perbedaan ini lebih kuat dan signifikan.

Pada diskusi di studi ini menyebutkan berdasarkan data dimiliki, walaupun dengan sirkumsisi akan meningkatkan kemungkinan menjaga kebersihan penis, ada jalur lain yang menunjukkan sirkumsisi menurunkan infeksi HPV.

Dalam laporan studi ini juga menyebutkan alasan mengapa sirkumsisi dapat menurunkan kanker servik pada wanita, pasangan hubungan seksualnya. Pertama, sirkumsisi berhubungan secara signifikan untuk menurunkan resiko infeksi HPV pada penis. Kedua, infeksi HPV pada penis berhungan dengan peningkatan sebesar 4 kali terhadap resiko infeksi HPV pada servik pada pasangan seksualnya. Ketiga, infeksi servik karena HPV berhubungan dengan peningkatan sebesar 77 kali resiko kanker servik.5

2.3.2. Infeksi HPV secara Serologi

Pada studi yang dilakukan oleh Nigel, dkk (2009) mendapatkan kesimpulan bahwa seropositif pada infeksi HPV behubungan dengan jumlah pasangan seksual (P=0,03) dan rendahnya pendekatan moral-religi di keluarga (P<0,001). Sirkumsisi dikatakan tidak menjadi faktor protektif, dengan odd rasio adjusted (95% CI), untuk HPV tipe-6, 11, 16 dan 18 dibandingkan dengan pria yang tidak disirkumsisi pada umur 32 tahun.6

Metode studi yang digunakan adalah studi kohort. Studi ini melihat seropositif pada umur 32 tahun untuk HPV yang bersifat onkogen (tipe-16 dan 18) dan non-onkogen (tipe-8 dan 11). Hal ini dihubungkan dengan laporan dari ibu mereka mengenai status sirkumsisi pada umur 3 tahun pada 450 orang. Studi ini dilakukan di New Zealand.

Hasil penelitian ini menyebutkan prevalen antibodi untuk HPV tipe apapun lebih tinggi pada pria yang disirkumsisi (27,2%) dibandingkan pria yang tidak disirkumsisi (23,0%). Sedangkan untuk HPV tipe-16 dan 18 masing-masing 22,8% dan 20,0%; dan untuk tipe-6 dan 11 masing-masing 4,4% dan 4,8%. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik. Disisi lain, ditemukan perbedaan yang signifikan pada hubungan seropositif untuk semua tipe HPV dengan status sosial-ekonomi keluarga, pendekatan moral-religi, dan jumlah pasangan status seksual.

Menggunakan serologi sebagai faktor terpaparnya tubuh terhadap HPV memilki kelebihan dibandingkan menggunakan sampel DNA. Hal ini dikarenakan selain mampu melihat paparan komulatif, juga mampu menunjukkan efek dari paparan HPV sebelumnya. Pada dengan DNA, hanya mampu mendeteksi infeksi yang sekarang dialami.

2.3.3. Infeksi HSV-2, HPV, dan Sifilis

Sebuah studi yang melihat hubungan sirkumsisi pada pria dengan pencegahan infeksi HSV-2 dan HPV dan sifilis dilakukan oleh Aaron, dkk (2009). Studi ini mendapatkan kesimpulan bahwa sirkumsisi pada pria secara signifikan menurunkan insiden infeksi HSV-2 dan prevalen infeksi HPV. Hal ini menandakan bahwa sirkumsisi merupakan prosedur potensial yang mampu memberikan manfaat di publik.7

Sebagai kelompok intervensi pada studi ini adalah pria yang disirkumsisi. Sedangkan sebagai kelompok kontrol adalah mereka yang tidak disirkumsisi.

Kemanjuran sirkumsisi terhadap pencegahan prevalen HPV adalah 35%. Prevalen genotip HPV-resiko tinggi pada kelompok intervensi adalah 18,0%. Sedangkan pada kelompok kontrol 27,9%. Hasil ini dengan rasio resiko adjusted, 0,65; 95% CI, 0,46-0,90; P=0,009.

2.3.4. Klirens dari HPV-resiko tinggi

Studi selanjutnya dilakukan oleh Ronald, dkk pada tahun 2010. studi ini mendapatkan kesimpulan bahwa sirkumsisi pada pria menurunkan insiden infeksi multiple HPV-resiko tinggi dan peningkatan klirens dari infeksi HPV-resiko tinggi pada pria yang HIV negatif.8 Studi ini dilakukan di Rakai, Uganda.

Sebagai kelompok intervensi pada studi ini adalah pria yang disirkumsisi. Sedangkan sebagai kelompok kontrol adalah mereka yang tidak disirkumsisi. Yang dimaksud HPV-resiko tinggi adalah HPV tipe-16, 18, 31, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, dan 68; atau disebut juga tipe onkogen.

Insiden infeksi HPV-resiko tinggi pada kelompok intrvensi adalah 19,7 kasus/100org/tahun. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan insiden sebanyak 29,4 kasus/100org/tahun (RR, 0,67; 95% CI, 0,51-0,89; P=0,006). Selain itu, klirens infeksi preexisting HPV-resiko tinggi adalah 215,8 kasus/100org/tahun pada kelompok intervensi dan pada kelompok kontrol sebesar 159 kasus/100org/tahun (RR Adjusted, 1,39, 95% CI, 1,17-1,64).8

 

BAB 3

SIMPULAN

Sirkumsisi adalah sebuah prosedur bedah minor yang sering dilakukan di masyarakat. Prosedur ini dilakukan dengan berbagai alasan, mulai dari alasan kebudayaan, agama, sosial, dan sampai alasan medis. Tindakan ini menghilangkan sebagian preputium yang menutupi glan penis.

Semua tipe epitelium pipih dapat terinfeksi oleh HPV. Repikasi virus ini berawal dari infeksi pada sel basal. Kemudian terjadi diferensiasi seluler. Selanjutnya virus ini merakit dirinya di inti sel dan melepaskan diri saat sel keratin pecah. Proses ini berhubungan dengan proliferasi dari semua lapisan epidermal kecuali lapisan basal dan produksi akantosis, parakeratosis, dan hiperkeratosis.

Dengan dilakukan tindakan sirkumsisi, permukaan glan penis akan menjadi lebih tebal dan dilapisi epitel yang membuatnya lebih tahan terhadap abrasi yang nantinya akan mengurangi kerentanan masuknya virus.

Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat hubungan antara sirkumsisi dengan infeksi HPV. Beberapa dari studi tersebut saling mendukung dalam simpulannya, sirkumsisi mampu menurunkan insiden infeksi HPV untuk tipe onkogen maupun non-onkogen. Namun demikian terdapat satu laporan penelitian yang tidak mendukung.

Sirkumsisi pada pria merupakan keputusan personal pasien dan orang tua. Walaupun begitu bukti-bukti ilmiah yang ada menyarankan untuk melakukan sirkumsisi untuk kepentingan pencegahan dan hal ini haruslah disebarluaskan.

Kedepannya diperlukan penelitian mengenai faktor-faktor yang membantu sirkumsisi mencegah infeksi HPV. Selain itu perlu juga diperhatikan jalur-jalur lain yang digunakan HPV untuk menginfeksi manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Santucci, RA. Phimosis, Adult Circumcision, and Buried Penis. Avaible from: http://emedicine.medscape.com/article/442617-overview. (Akses: 10 Januari 2011)

2. Angel, Carlos A. Circumcision. Avaible from: http://emedicine.medscape.com/article/1015820-overview. (Akses: 28 Oktober 2010)

3. Weiss, H A., Thomas, S L., Munabi, S K., et all. Male circumcision and risk of syphilis, chancroid, and genital herpes: a systematic review and meta-analysis. Sex Transm Infect 2006;82:101–110.

4. Fergusson, David M., Boden, Joseph M. and Horwood, L. John. Circumcision Status and Risk of Sexually Transmitted Infection in Young Adult Males: An Analysis of a Longitudinal Birth Cohort. Pediatrics 2006;118;1971-1977.

5. Castellsague, X., Bosch, X., Munoz, Nubia, et all. Male Circumcision, Penile Human Papillomavirus Infection, and Cervical In Female Partners. N Engl J Med 2002;346:1105-12.

6. Dickson,Nigel P., Ryding, Janka, Thea van Roode, et all. Male Circumcision and Serologically Determined Human Papillomavirus Infection in a Birth Cohort. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 2009;18(1):177–83.

7. Tobian,Aaron A.R., Serwadda, David, Quinn,Thomas C., et all. Male Circumcision for the Prevention of HSV-2 and HPV Infections and Syphilis. N Engl J Med 2009;360:1298-309.

8. Gray, Ronald H., Serwadda, David, Kong, Xiangrong, et all. Male Circumcision Decreases Acquisition and Increases Clearance of High-Risk Human Papillomavirus in HIV-Negative Men: A Randomized Trial in Rakai, Uganda. The Journal of Infectious Diseases 2010; 201(10):1455–1462.

9. Szabo R, Short RV. How does male circumcision protect against HIVinfection? BMJ 2000;320:1592-4.

10. Brooks, Geo F., Butel, JanetS., dan Morse, Stephen A. Human Cancer Virus. In: Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill, 2004.

11. Reichman, Richard C. Human Papillomavirus Infections. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine, 17th ed. The McGraw-Hill, 2008.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Februari 2011 in Kedokteran

 

Tag:

Simbol Tanggung Jawab

Setiap perjalanan dalam hidup ini adalah proses. Melalui proses itu nantinya diharapkan kita mampu menjadi yang lebih matang. Pendewasaan dan pembelajaran menjadi judul dari proses perjalanan itu. Sebuah perjalanan terkadang menjadi panjang atau pun singkat tergantung dari individu itu menghendakinya. Proses pembelajaran itu bisa berlangsung satu jam, satu hari, atau bahkan bertahun. Setiap keringat yang tercecer bukan tanda lelahnya kita menjalani perjalanan itu. Keringat merupakan pengingat terhadap panjangnya proses yang harus dijalani. Sesuatu yang harus diingat adalah apa tanggung jawab yang ada dalam proses itu hingga kita mampu mencapai tujuan yang kita dan lingkungan inginkan.

Didalam proses itu sendiri terdapat tanggung jawab-tanggung jawab yang membuat kita selalu diluar zona aman. Untuk mencapai tujuan diperlukan pribadi yang matang, bukan hanya matang secara fisik maupun mental. Hal ini diperlukan untuk memastikan apa yang akan dilakukannya memang pantas dilakukan dan nantinya pantas ditiru oleh orang lain. Zona yang tidak aman disini adalah zona dimana orang dibebankan dan beban itu diharapkan mampu membuat insan tersebut lebih dewasa. Zona yang menuntut orang tersebut untuk berusaha menunjukan apa hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Orang dapat berada dalam zona itu karena mereka sendiri yang menginginkannya ataupun ditunjuk oleh lingkungan. Lingkungan menunjuknya karena orang tersebut mampu untuk berjalan di dalam zona itu. Zona itu dapat berupa jabatan ataupun pekerjaan. Sebuah tanggung jawab itulah zona yang akan membuat kita belajar tetntang pendewasaan. Beberapa anggota Pramuka Tegak/Dega memiliki kesempatan yang lebih untuk berada disana.

Simbol Pertama – Identitas

Sebelum menjadi penegak biasanya seseorang akan melewati fase penggalang yang biasanya dijalani di jenjang SMP. Namun di SMP kita tidak memiliki ekstra-kulikuler pramuka, apa mau dikata. Saat memasuki SMA/SMK kita akan mulai mengenal kata penegak dalam pramuka dan pandega saat di perguruan tinggi. Seharusnya penegak adalah jenjang untuk meraka yang berumur 15-20 tahun dan pandega adalah mereka yang berumur 21-25 tahun. Disinilah kita akan dikenalkan dengan sebuah tanggung jawab yang dimiliki oleh seluruh anggota pramuka di Indonesia.

Sebelum menjadi anggota di sebuah Ambalan atau Racana kita masih berstatus tamu atau calon anggota. Saat menghadiri upcara pramuka biasanya mereka hanya akan mengenakan seragam coklat untuk atasan dan bawahan. Belum ada atribut seperti kacu merah putih ataupun lainnya. Kemudian mereka akan menjalani sebuah proses di gugus depan masing-masing. Hingga dirasa pantas, maka dilaksanakanlah upacara penerimaan anggota baru. Upacara ini berjalan sesuai adat yang dimiliki Ambalan atau Racana. Upacara ini tampaknya menjadi sebuah kepantasan untuk calon anggotanya untuk mengemban sebuah tanggung jawab pertama mereka. Tanggung jawab yang begitu besar kepada bangsa ini. Sebuah kewajiban terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjalankan Pancasila. Sejak dilantiknya mereka menjadi anggota pramuka penegak atau pandega, saat mengikuti upacara pramuka biasanya mereka sudah memakai simbol tanggung jawab pertama, Merah Putih.

Simbol Kedua – Perjalanan

Tugas-tugas pun dimulai. Kesalahan dan keberhasilan akan dicapai. Tanggung jawab mulai menantang untuk diselesaikan. Saat itu akan ada yang menilai kita. Melihat keberhasilan kita didalam menyelesaikan tugas-tugas. Gugus depan akan menjadi tempat untuk melakukan itu semua. Disanalah kita bisa bercermin apa yang mampu kita lakukan.

Pendamping kiri dan kanan pun menyatakan kesiapan kita untuk menerima yang kedua. Di depan sang Merah Putih dan disaksikan oleh sang pembina terucaplah tiga janji yang akan selalu diingat maknanya. Janji itu akan membuat diri kita menjadi setingkat lebih bertanggung jawab. Tanggung jawab yang diemban bukanlah sebuah tanggung jawab yang dijankan bersama orang lain. Kewajiban ini hanya dijalankan oleh orang yang dengan gagah beraninya menyematkan simbol kedua di pundak kiri dan kanannya. Simbol ini diharapkan akan selalu mengingatkan kita siapakah pribadi ini. Bagaimana sikap dan watak dari penggunanya adalah cerminan bagaiamana kita membawa tanggung jawab, apakah sebagai ajudan atau laksana. Simbol yang sebenaranya pemberat dalam perilaku karena simbol ini adalah sebuah pembuktian dari kemampuan yang kita miliki.

Simbol Ketiga – Sebuah Awal

Lalu bagaimana selanjutnya? Pertanyaan ini sepertinya sering kita tanyakan pada diri sendiri. Disaat kita telah memiliki bukti dari apa yang kita bisa lakukan terkadang kita akan binggung, kemanakah arah perjalanan proses pembelajaran ini. Seperti halnya seorang siswa SMA yang telah tamat dari sekolah unggulan akan bingung kemana harus melanjutkan kuliah, atau malah binggung akan kelanjutan studinya karena sudah jenuh dengan belajar. Sebenarnya apa yang harus dilakukan saat-saat seperti itu adalah menunjukkan apa yang kita bisa. Jika kita mampu menunjukkan bahwa kita lulusan sekolah unggulan, tunjukkan. Maka sebuah jalan kesuksesan akan terlihat. Begitupun bila kita yakin dengan apa yang kita bisa, maka tanggung  jawab berikutnya akan datang untuk menantang kita. Ingatlah bahwa proses pembelajaran dan pendewasaan ini sangat panjang. Diamlah pada zona aman bila ingin memutus proses itu. Zona tidak nyaman hanya akan mendatangi orang-orang yang dianggap mampu untuk mengerti bagaimana proses belajar.

Tentu kita pernah mendengar sebuah kalimat bijak. Jangan pernah menyebut diri kita mampu, biarkan orang lain menilai. Tugas kita saat melaksanakan kalimat itu hanyalah selalu berusaha menunjukan yang terbaik yang kita bisa lakukan. Saat kita dilihat mampu melakukan sesuatu maka mereka akan memberikan kepercayaan pada kita untuk melakukan tugas itu. Singkatnya, karena kita dilihat mampu maka kita dipercaya. Ketika kita dipercaya itulah maka simbol tanggung jawab yang ketiga itu akan datang.

Sebuah roda kemudi akan diberikan pada mereka yang dipercaya. Pemaknaan simbol pertama lebih kepada bagaimana kita menentukan identitas kita. Simbol kedua menjadi bukti bagaimana setengah perjalanan proses pendewasaan kita karena kita mampu membawa diri kita sendiri. Saat kita mampu telah mampu menentukan arah sendiri, saat itulah kita akan memilki tugas baru untuk memberikan arahan baru bagi orang lain atau kelompok. Sebuah roda kemudi adalah simbol selanjutnya.

Dengan dikukuhkan dan disematkannya simbol ketiga ini tampaknya akan menjadi sebuah awal dari lembaran-lembaran proses hidup. Dengan keberanian mengenakan simbol ini akan menjaga selalu pola pikir kita kalau tanggung jawab kita hari ini tidah hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kepentingan yang lebih besar. Kepentingan yang membutuhkan pengabdian dan idealisme yang tinggi. Nantinya orang dengan simol ketiga ini akan menemukan titik nadir kejenuhan. Sebuah titik yang akan melupakan siapa kita dan kepada siapa kita bertanggung jawab sebenarnya. Jika saat itu tiba, yang kita harus pahami adalah ini sebuah awal untuk belajar melayani. Bagaimana kita dengan kemampuan yang kita miliki—simbol kedua—mampu menunjukan pengabdian kepada sesuatu yang telah membuat kita berdiri tegak hari ini. Tegaknya kita berdiri hari ini akan terus mengingatkan kita kalau sebenarnya kita bukan siapa-siapa tanpa tanggung jawab.

Tulisan ini saya buat sebagai refleksi perjalanan panjang di Gerakan Pramuka. Bukan sebuah akhir, melainkan sebuah awal. Saat kita menutup lembaran terakhir, jangan pernah ragu untuk membuka lembaran yang baru.

Tanggung Jawab

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Februari 2011 in Jejak selangkah

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.152 pengikut lainnya.