RSS

Arsip Tag: hamil

Hipertensi Kronis pada Kehamilan

Hipertensi kronik pada kehamilan didefinisikan sebagai tekanan darah lebih dari 140mmHg untuk sistole atau 90mmHg untuk diastole sebelum kehamilan, atau terjadi sebelum umur kehamilan 20 minggu. Prevalen di Amerika Serikat adalah 3% dan terus meninggkat. Terus meningkatnya angka ini akan membuat kebutuhan koseling bagi wanita hamil akan meningkat dan pengaturan dosis obat antihipertensi selama kehamilan.

Tingginya angka wanita hamil yang mengalami hipertensi kronik perlu mendapat perhatian mengingat komplikasi yang dapat ditimbulkan dari tekanan darah yang tinggi selama kehamilan. Namun demikian, kasus ini memiliki prognosis yang baik. Wanita dengan hipertensi kronik meningkatkan frekuensi episode pre-eklamsi, lepasnya plasenta (abruptio placenta), kelahiran prematur, dan seksio cesaria. Resiko preeklamsi meningkat dengan meningkatnya durasi dari hipertensi. Pre-ekamsi ini menyebebkan kelahiran prematur dan seksio cesaria.

Pada kebanyakan wanita dengan hipertensi kronik, pada kehamilan, akan mengalami penurunan tekanan darah. Hal ini serupa dengan wanita hamil yang tidak mengalami hipertensi kronik. Tekanan turun pada akhir trisemester pertama dan naik pada trisemester ketiga. Sebagai akibatnya, dosis hipertensi harus dilakukan pengurangan dengan cara tappering.

ibu-hamilSolusio Plasenta (1)

Evaluasi sebelum kehamilan

Perhatian terhadap wanita yang mengalami hipertensi kronik harus dilakukan sebelum kehamilan. Hal ini untuk mengoptimalkan efek obat sebelum kehamilan dan memfasilitasi konseling guna membahas komplikasi yang mungkin terjadi saat kehamilan. Evaluasi sebelum kehamilan harus mengikuti rekomendasi dari JNC7. Dalam rekomendasi tersebut dilakukan pemeriksaan apakah terdapat penyebab sekunder dari hipertensi dan adanya kerusakan target-organ sebagai akibat hipertensi. Karena Hipertensi kronik meningkatkan resiko terjadi pre-eklamsi, maka perlu dilakukan pemeriksaan lab protein dalam urin. Adanya kerusakan target-organ dapat memperburuk prognosis sehingga perlu dilakukan konseling dengan baik.

 

Pengobatan antihipertensi

Pengobatan hipertensi dengan obat antihipertensi secara signifikan menurunkan resiko memburuknya hipertensi. Tetapi pengobatan ini tidak menurunkan faktor penyebab pre-ekamsi, abruptio plasenta, atau memperbaiki prognosis neonatal.

Obat antihipertensi yang paling aman untuk fetus adalah methyldopa, dimana telah digunakan sejak 1960-an. Methyldopa telah digunakan sebagai lini pertama untuk pengobatan hipertensi pada kehamilan. Namun methyldopa sering kali menyebabkan kantuk, selain itu memiliki tolerabilitas bila digunakan dengan obat lain.

Penggunaan obat beta-blocker memberikan hasil berkurangnya episode hipertensi yang parah dari pada penggunaan methyldopa. Labetalol, yang merupakan kombinasi dari alpha- dan beta-recetor blocker, sering direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama atau kedua.

Calsium-channel-blocker long-acting juga disebutkan aman bagi kehamilan, walaupun bukti masih terbatas dibandingkan dengan labetalol. Obat golongan diuretik kontraindikasi pemberiannya pada kehamilan karena kemungkinan terjadi deplesi volume.Tetapi beberapa guideline mendukung dilanjutkannya pengobatan hipertensi kronik saat hamil dengan diuretik bila sebelumnya telah dirawat dengan obat yang sama.

Angiotensi-converting-enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin-receptor blocker kontraindikasi terhadap kehamilan. Penggunaannya pada setengah jumlah kehamilan berhubungan dengan oligohydraminios dan neonatal anuria, pertumbuhan abnormal, dan kematian fetus. ACE inhibitor juga berhubungan dengan efek teratogenik. Disarankan pada wanita yang menderita hipertensi segera mengganti obat hipertensi ACE inhibitor sebelum terjadi kehamilan.

Perubahan gaya hidup telah menunjukkan memperbaiki tekanan darah pada wanita yang tidak hamil. Perubahan ini berupa penurunan berat badan bila BMI diatas normal dan meningkatkan aktivitas olahraga. Meningkatnya BMI menunjukkan peningkatan resiko pre-eklamsi.

Tekanan Darah yang Diinginkan saat Kehamilan

Beberapa guideline menganjurkan untuk memulai pengobatan saat tekanan darah menunjukkan >159/89mmHg sampai >169/109 mmHg. Target untuk wanita yang sedang dalam terapi antihipertensi adalah <140/90 mm Hg, bila tidak menunjukkan kerusakan organ. Para ahli berekomendasikan untuk berhenti terapi antihipertensi bila tekanan darah telah berada dibawah tekanan darah yang diinginkan. Bila terapi dilanjutkan, penurunan tekanan darah yang agresif harus dihindari. Dosis antihipertensi sebaiknya dikurangi, khususnya pada trisemester kedua, saat tekanan akan mulai turun secara fisiologis.

Menyusui

Walaupun obat antihipertensi terdeteksi pada air susu, namun kadarnya lebih rendah daripada di plasma maternal. Sejak ditemukan bayi yang mengalami lethargy dan bradycardia saat baru lahir pada bayi yang mengkonsumsi antenolol, American Academy of Pediatric merekomendasikan penggunaan antenolol dengan perhatian. Tidak ada peringatan pada penggunaan beta-blocker seperti metoprolol.

Kesimpulan

Obat antihipertensi yang aman untuk wanita yang sedang hamil adalah methyldopa, labetalol, dan calsium-channel-blocker long-acting. Saat kehamilan dosis obat tersebut harus dikonsulkan untuk dilakukan pengurangan dosis. Direkomendasikan medikasi diberikan sampai tekanan darah mencapai antara 130 mmHg – 150 mmHg.

 

Daftar Pustaka

Seely, Ellen W. dan Ecker, Jeffrey. Chronic Hypertension in Pregnancy. N Engl J Med 2011;365:439-46.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 September 2011 in Kedokteran

 

Tag: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.152 pengikut lainnya.