RSS

Sebagian Dunia

Dulu pernah terpikir setelah menamatkan SMA akan ke dunia pariwisata. Kuliah 4 tahun di STP jurusan ADH kemudian berlayar beberapa tahun. Pulang dari berlayar melanjutkan sekolah hospitality. Mencari pekerjaan dengan orientasi menjadi general menager. Saat pensiun akan memiliki hotel yg akan dikembangkan jadi hotel ternama.

Setelah 6 tahun cita2 itu dibuat, ternyata dunia medislah tempatku berlabuh. Melakukan rutinitas jaga dgn shift pagi-sore-malam menjadi agenda rutin. Berusaha membuat para pasien melanjutkan liburan dengan cepat.

Hari ini memang tidak jauh dari pariwisata. Tempat kerja saat ini merupakan klinik pariwisata. Tidak terlalu jauh dari cita2 setamat SMA.

Semoga sebagian dunia ini dapat kujalani dengan baik. Kewajiban harus dilaksanakan seprofesional mungkin. Bukan mengharapkan banyak tamu yang sakit, namun memastikan orang yang memerlukan jasa medis dapat melanjutkan liburannya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2015 in Jejak selangkah

 

Kaki tak terayun, tak perlulah mulut berbuih

Kaki tak terayun, tak perlulah mulut berbuih

Butuh banyak org yg berpikir seperti ini. Terlebih bergerak untuk menyelesaikan, bukan dengan mulut.

the change strategist

Mengayunkan kaki dan mengangkat tangan memang lebih menghabiskan energi ketimbang membuka mulut. Saya pikir inilah mengapa sehari-hari kita lebih mudah berpolemik dan beradu kata, daripada beradu langkah menyelesaikan masalah.

Coba lihat dalam sebulan terakhir, kita melihat media massa dan media sosial dipenuhi dengan polemik kata-kata. Setidaknya ada tiga yang saya catat, yaitu kampanye hitam pra pilpres, hitung cepat hasil pilpres dan konflik Gaza-Israel. Ketiganya adalah masalah riil, saya setuju. Tanpa ragu. Bahkan, saya sepakat ketiganya adalah masalah-masalah besar yang kita tidak semestinya menutup mata dan menganggap tidak ada.

Polemik kampanye hitam berputar soal diri masing-masing capres, yang asal muasalnya adalah semangat menyediakan informasi bagi publik sebelum memilih. Namun, seiring berjalan, malah menjadi polemik yang ruwet sekali, sehingga terjadi polarisasi emosional antar kedua kelompok pedukung capres, dan kelompok ketiga yang menyatakan tidak memilih keduanya tapi turut bikin keruh juga.

Lihat pos aslinya 414 kata lagi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Juli 2014 in Jejak selangkah

 

Ada Apa Antara Aku dan Pramuka?

Manusia diciptakan dengan dua sifat dasar yaitu sebagai mahluk individu dan sosial. Seorang individu tidak akan pernah bisa lari dari hukum alam tersebut selama ia masih terikat. Sifat individu mendasari ego seseorang sebagai mahluk hidup. Usaha bertahan hidup dan mencari kematian adalah contoh menarik dari sifat ini. Hal ini begitu menarik bila kita berada di dalam kelas psikologi. Sesuatu yang lebih besar ternyata tersimpan dengan apik, namun secara tersirat. Hal ini membuat tidak semua orang mampu melihat semua itu sebagai suatu bagian dari sebab akibat dari hukum alam yang terlalu besar untuk dijelaskan disini. Sifat individu yang dimiliki akan memberikan warna pada apa yang kita lakukan sehari-harinya. Sebenarnya apa yang membentuk keindividuan itu? Jawaban yang paling tepat yang saya dapatkan setelah menyelesaikan pendidikan di bagian Kedokteran jiwa adalah psikodinamika. Tulisan ini tidak akan menjelaskan tentang materi psikodinamika itu, namun bercerita lebih banyak pada krisis dan solusi yang tercipta pada kehidupan penulis sehingga berdampak suatu usaha yang sebenarnya bersifat individu, namun berharap memberi makna lebih dari sisi sosial.

Suatu waktu kita harus memilih jalan mana yang akan diambil untuk melanjutkan kehidupan ini lebih berarti. Saat krisis itu datang tidak jarang kita harus meninggalkan sesuatu yang begitu berarti atau memberi arti lebih pada hidup ini. Melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran menjadi alasan terkuat untuk meninggalkan dunia Pramuka saat itu. Sungguh berat sebenarnya. Bukan sebuah tempat yang nyaman sebenarnya yang harus ditinggalkan. Hanya saja begitu banyak cerita yang membentuk kepribadian ini. Seorang pembina yang begitu fanatik dengan Badden Powel sering mengatakan,

‘tinggalkan tempat ini lebih baik dari sebelum kamu datang’.

Saat itu tidak ada bisa diberikan saat meninggalkannya. Sesuatu yang teringat betul adalah begitu banyak yang didapat di tempat itu. Diri ini meninggalkan tempat itu dengan sesuatu yang baik sebelum diri ini datang kesana, harus ku yakini.

Menjadi Penegak Laksana adalah sesuatu yang begitu membagakan. Laksana berarti mampu bediri sendiri untuk melakukan sssuatu dengan baik dan bertanggung jawab. Apak benar saya telah pantas itu? tidak pernah bisa terjawab dengan penuh keyakinan. Sebuah tamparan akan saya ingat untuk memastikan saya mampu membawa beban yang begitu berat yang saya taruh sendiri di pundak. Saat itu tidak ada yang saya berikan untuk pramuka.

Menjadi Dewan Kerja Cabang adalah cerita lain dari bagian kecil ini. Tempat yang begitu membuat saya memiliki ruang untuk berpikir siapa sebenarnya saya. Salah dan benar terkadang dikaburkan oleh apa yang disebut dinamika kehidupan. Dinamika organisasi menjadi cerminan tentang bagaimana sebenarnya hidup. Menentang orang dewasa merupa proses pembelajaran, namun saat tahu kita salah maka harus dengan keberanian dan ketulusan mengakui kita harus belajar sesuatu yang begitu sulit, kehidupan. Orang-orang yang sebaya dan lebih tua, namun saya panggil ‘kakak’, menjadi panutan. Masa-masa sulit dalam hidup terutama masalah hilangnya tokoh panutan dalam kehidupan karena meninggal, cukup membuat tersenyum karena ada mereka. Walau pada akhirnya salah satu dari mereka harus saya temui di ruang Forensik saat saya melanjutkan pendidikan dokter. Saat bertanya apa yang saya berikan, saya hanya menjawab dalam hati. Tidak ada kata yang mampu saya katakan selain terima kasih. Pergi dalam keadaan penuh dengan pengalaman yang begitu berarti tanpa memberikan sesuatu sangat sulit terasa di dada ini.

Govindra Metriya, Bahari, Dianpinsat, Raimuna, Pertikari, dan Jambore menjadi cerita yang begitu panjang untuk diceritakan. Tidak mungkin menceritakan bagaimana saat terjerumus pramuka di SMA N 4 dengan akal daya Dewa Cakrabuana dan sahabatnya PG, saat ini masih kuragukan batasan hubungan mereka. Perasaan bangga saat menginjakkan kaki di KRI yang sandar di Benoa. Menjadi sangga kerja dan belajar dari orang-orang yang luar biasa adalah sesuatu yang sungguh indah. Memiliki kesempatan untuk melihat saudara-saudara dari sabang sampai merauke adalah begitu berharga yang bisa ceritakan tentang besarnya bangsa Indonesia ini. Sampai disana tidak ada yang bisa saya berikan.

Menyelesaikan pendidikan adalah sesuatu yang luar biasa bagi insan yang mempunyai kesempatan duduk di bangku kuliah. Hari ini saya belum wisuda, jadi belum selesai benar. Kebahagian tertinggi yang saya miliki adalah apa yang saya dapatkan dari proses pendidikan kedokteran mampu dibagikan kepada yang memerlukan. Hal ini yang menjadi alat utama saya untuk menjawab kata-kata yang diberikan oleh pembina itu. Pengetahuan kegawatdaruratan yang saya miliki, walau tidak seberapa, rasa-rasanya hal yang bisa saya bagikan saat ini. Kejadian yang begitu sedih untuk diingat adalah saat mendapati seorang panutan terbujur kaku dengan scarf merah putih ada di lehernya. Keinginan agar semua orang yang mereka sebut dirinya pramuka tahu apa yang harus dilakukan saat melihat sesorang tak berdaya terkena kecelakaan. Hal ini terasa begitu menggebu-gebu terlebih sebelum itu kami berkeinginan melakukan. Membuat seluruh pramuka tahu mengenai Bantuan Hidup Dasar. Mungkin ini yang bisa berikan.

Sungguh individu sekali sebenarnya apa yang ingin saya lakukan. Sifat keindividuan yang belum mampu melihat apakah sebenarnya ini yang dibutuhkan Pramuka. Apakah mereka akan mau menerima ucapan terima kasih dari saya karena telah membentuk pribadi yang cukup matang saat ini.

Semoga tulisan ini mampu mewakili apa yang saya dapat dan saya berikan untuk pramuka. Walau seragam pramuka tersimpan rapi di lemari dan kacu dan baret telah pergi entah kemana, keinginan untuk berterima kasih ini dapat terlaksana.

BHD Jambore

I Putu Anom Nurcahyadi, S.Ked.

Di depan laptop yang telah vegetatif, 312190

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2013 in Guratan Kisah

 

Tag: ,

Keterikatan pada Sebuah Dasar Fondasi

Hal yang mendasar terkadang terlalu sulit disadari keberadaanya. Tak salah sastrawan zaman dahulu membuat pepatah ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, sedangkan semut di seberang laut tampak’. Bukan pepetah tersebut yang akan dibahas, namun bagaimana kita memcoba melihat gajah itu dan melepaskannya. Dasar merupakan sebuah fondasi dari apa yang terbangun diatasnya. Dasar akan selalu melekat dengan struktur diatasnya, suka maupun tak suka. kelekatan tersebut sering diartikan sebuah keterikatan. Bangunan tidak akan kokoh jika bagian dasar dan struktur atasnya tidak terikat dengan kuat.

Dasar dapat menjadi sumber dari segalanya. Layaknya pertemuan sperma dan ovum di tuba falopi akan menghasilkan sebuah sel yang nantinya berkembang menjadi organisme yang terdiri dari jumlah sel yang tak terhingga dengan organ lengkap dan berfungsi. Dasar hampir selalu berasal dari zaman dimana dasar itu belum terbentuk. Pengaruh diluar struktur begitu kuat membangun dasar. Aspek psikologis menjadi aspek yang menarik jika membicarakan perkembangan emosional manusia menurut Freud. Begitu banyaknya faktor diluar diri kita dijadikan domaian dari dasar pemikiran atau dasar alam bawah sadar sehingga nantinya terefleksikan dalam perilaku. Setelah yang diluar itu masuk, individu akan memproses apa yang terjadi. Dengan nalar alamiah semua itu akan menjadi dasar untuk mempertimbangkan sesuatu dan bertindak.

Keterikatan tak ada bedanya ikatan yang terkadang longgar ataupun sangat ketat. Membatasi apa yang terjadi dengan batas-batas yang diajukan sang dasar. Sejatinya tidak ada yang salah dengan keterikatan. Hidup dengan aturan yang telah baku merupakan keadaan ternyaman manusia. Keterikan membuat kita merasa benar dan orang lain salah. Terkadang ikatan tidak akan membuat kita berpindah dari satu dasar ke dasar yang lain sampai dasar yang sebelumnya belum terbantahkan.

Lepas dari keterikatan dan membuat dasar yang merupakan sesuatu yang bersifat personal. Antara individu tidak akan sama prosesnya. Buku ‘Tao of Physic’ memaparkan suatu perubahan yang begitu masif dalam pola pikir ilmuan fisika. Bagaimana teori Newton yang dipercaya sebagai hukum yang begitu kekal dibantah dengan lahirnya hukum relativitas oleh Einstein. Dalam film ‘Eddington And Einstein’ memaparkan bagaimana perjuangan dasar yang baru itu masuk dalam tatanan kehidupan fisika. Tidak hanya aspek keilmuan yang dijadikan pertimbangan. Suatu perubahan akan selalu menghasilkan gesekan. Seberapa besar gesekan menjadi tolak ukur bagaimana fase penolakan terjadi pada sebuah zaman transisi. Peperangan yang tejadi antara Jerman dan Inggris menjadi intrik dalam penyesuaian dasar tersebut. Saat mereka lepas dari keterikatan maka akan terbentuk pikiran yang bebas dan mampu mencapai penyesuaian untuk dasar yang baru itu.

einstein

Keinginan untuk berubah dalam hidup layaknya sebuah usaha yang abadi dalam menjalani sebagian besar kehidupan ini. ‘Hal yang abadi adalah perubahan itu sendiri’. Perubahan yang terbesar dapat direncanakan. Kebanyakan orang memulai perubahan tu dengan sebuah mimpi. Mimpi menjadi dasr dalam perubahan. Mimpi layaknya bunga tidur yang terkembang saat seseorang berada pada fase tidak nyaman. Sebelum tidur mereka akan mengulang cerita hari itu dengan penuh resah. Menganalisis cerita mana yang akan diulang dan yang mana akan diperbaiki. Tampaknya perubahan ini memiliki hubungan dengan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki. Mimpi tidak hanya sebuah bunga tidur biasa yang penuh mitos, tetapi kekuatan untuk melakukan perubahan itu sendiri. Dan untuk sekian kalinya pada tiap pagi kita akan terbangun dengan semangat baru. Semangat untuk melakukan perubahan. Belum tentu tiap harinya perubahan yang kita impikan terjadi sesuai mimpi. Paling tidak semangat baru tiap pagi tersebut mampu menghasilkan benih-benih baru dari bunga tidur yang terkembang.

Bagaimana dengan keadaan dimana seseorang berada pada keadaan zona nyaman? Pada keadaan tersebut dasar perubahan tampaknya hampir tidak ada. Keterikatan menjadi penghalang untuk mampu berpikir apa yang salah. Keterikatan menjadikan kita diam, tersandra dalam kekangan yang bukan nyaman tapi merasa disekitar kita begitu statis. Selalu sama, lalu mengapa harus berubah. Tali kekangan itu tak selalu sama antar individu. Fisikawan Inggris sampai pada awal abad 20 begitu nyaman dengan hukum gravitasi Newton. Dengan begitu mereka dengan nyaman memprediksikan alam semesta. Jika sebuah gaya diketahui dengan detail dari mana asal arah, kemana, dan besarnya maka alam semesta begitu menjadi mudah dalam tulisan diatas kertas. Namun, Tidak semua planet dalam tatanan galaksi ‘Bima Sakti’ terbukti mengikuti hukum Newton itu. Zona kenyamanan itu terganggu.

Keberanian membuat perubahan didasari keberanian mendobrak dasar berpikir. Layaknya memperbaiki struktur bangunan yang besar harus dimulai dari dasar. Setidaknya dibutuhkan tiga hal mendasar untuk itu. Keberanian mencari, melihat kesalahan pada dasar bangunan tersebut dan merobohkan bangunan itu untuk memperbaikinya. Mencari kesalah dilakukan dengan bertanya tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan mengapa bangunan itu tidak memiliki fungsi yang kita inginkan. Saat kita meyakini sesuatu kita setidaknya menyadari kepastian hasil yang kita lakukan. Dasar agama menjadi begitu kuat karena disana mencakup sebab dan akibat yang begitu mutlak. Mencari kesalahan pada dasar agama begitu sulit jika berada dalam zona nyaman agama. Jika mampu membuat pertanyaan mengenai apa yang salah dengan diri kita, kebranian pertama mungkin telah ada. Mengajukan pertanyaan tentang orbit merkurius yabng tidak sesuai dengan hukum Newton merupakan keberanian yang patut dicontoh. Saat itu Newton menjawab itu kuasa Tuhan yang harus ada.

Mendobrak dasar berpikir menjadi awal dari perubahan untuk bebas dari keterikatan. Mencari jawaban untuk pertanyaan diatas menjadi hal yang monumental yang dilakukan Einstein. Jika kita terbiasa dengan bangun pagi pukul 08.00, mengapa tdak mencoba bangun pukul 06.00. Jika tiap pagi kita meminum kopi, mengapa tidak menikmati secangkir hangat latte. Kopi dan susu bercampur memberikan manis dan pahit yang mampu mengingat hitamnya kemarin dan manisnya hari ini. Mencoba terus adalah kunci perubahan itu.

Hal yang tersulit dalam artikel ini bagaimana kita menetukan dasar kehidupan yang kita lakoni memang perlu diubah. Melakukan perubahan saat dasar itu salah begitu mudah. Bagaimana dalam bangunan struktur yang begitu masif kita mampu menentukan dasar yang salah. Dalam jutaan kubik semen dan batu bata yang tersusun memiliki kesalahan. Bagaiamana kita menyadari dasar itu harus diubah. Apakah kesalahan pada dasar yang kita pikir memang bermanifestasi pada bangunan itu. Apakah bangun pada pukul 08.00 dan meminum kopi itu salah? Kata kunci untuk menjawab tersbut adalah ‘zona nyaman’. Mampukah kita keluar dari zona nyaman?

Setelah kita yakin dasar yang salah tersebut biang kerok dari tidak fungsionalnya sebuah bangunan, kita harus memiliki keberanian untuk bertanya apakah seluruh bangunan ini akan dihancurkan hanya untuk memperbaiki dasar tersebut. Itulah keberanian yang ketiga diatas. Semua itu tergantung seberapa salah dasar yang kita anut. Seberapa besar dampak fungsional kesalahan dasar yang kita anut.

Keterikatan pada suatu dasar tidak sepenuhnya salah. Artikel ini bertujuan kita bertanya apakah dasar kita berpikir hingga akhirnya bertindak sudah benar. Walupun benar dan salah tersebut tetap tergantung dasar yang kita gunakan berpikir. Mario Teguh mengatakan kebenaran itu berasal dari hati yang tenang. Namun hal tersebut kontradiksi dengan teori Freud. Apa yang kita pikirkan hari ini dipengaruhi hal-hal yang terjadi pada masa lalu. Walaupun teori ini belum pernah dibuktikan.

Terima kasih.

Bonyoh, Kintamani. 317081.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juli 2013 in Guratan Kisah

 

Tag: , ,

Hubungan pasien –dokter dengan mu?

Hubungan pasien –dokter dengan mu?

  • Perasaan saya mempengaruhi tingkah laku saya.
  • Perilaku saya mempengaruhi perasaan penderita.
  • Perasaan penderita mempengaruhi perilaku penderita.
  • Perilaku penderita mempengaruhi perasaan saya.
  • Perasaan penderita mempengaruhi perilaku penderita.
  • Perilaku penderita mempengaruhi perasaan saya.

dr. IGN. Putra Gunadhi, 1996

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Februari 2013 in Kedokteran

 

Tag: ,

Saksi

Malam sebenarnya tak begitu dingin. Hembusan angin ini sejatinya bukanlah pencari kehangatan. Suatu hal patut dipersalahkan untuk alasan mengapa hati ini begitu terasa ingin merasakan hangat. Gelapnya malam tidak pernah membutakan. Perasaan ini yang mampu membutakan. Gemgaman ini menguatkan tuk percaya kehangatan ini kuperlukan. Gemgaman ini menjadi penuntun dari hati yang telah dibutakannya. Sebuah gemgaman yang menghapus ruang kosong di telapak tangan.

Langkah begitu terasa pelan. Berusaha merasakan kehangatan yang begitu tersirat dalam dinginnya malam. Mungkin sengaja diperlambat untuk bisa saling memahami bagaimana nantinya akan melangkah. Bukan kehati-hatian, namun merasa milik dirinya dan diriku terasa begitu indah. Jejak empat langkah itu terlalu sempurna meninggalkan bekas di pasir yang halus itu. Langkah awal untuk membawa kedua insan ini meyakinkan diri akah kehangatan itu.

Sesekali pandangan rona kemerahan pasti akan menampakkan diri jika saja malam tidak begitu gelap. Hanya lampu merkuri kuning yang memberikan siluet indah wajahnya. Lekukan di bibirnya begitu mempesona. Bukan senyum senang, namun lekukan yang ku yakin memeberikan kenyamanan bagi yang melihatnya. Sungguh aku menikmati senyuman itu.

Tampaknya suara deburan ombak ikut andil dalam menjadi saksi. Terdapat dua bintang yang pernah kami beri nama. Sungguh arogan melakukan hal itu. Namun, itu lah sebagian dunia yang ingin kami ciptakan. Bulan begitu manis disana. Tak ada yang perlu di deskripsikan untuk hal itu. Tunggal, putih, dan indah. Pohon-pohon yang sedikit bergerak akibat angin tampak begitu senangnya. Saksi-saksi itu tak terlupakan.

Gemgaman itu makin erat. Langkah terhenti seketika. Pandangan itu bertemu untuk sekian kalinya, namun kali ini berbeda. Waktu terasa terhenti dan saksi-saksi seakan menahan nafas. Anak tangga membantu untuk mengutarakannya. sepertinya aku memerlukan itu mengingat kelebihan yang kumilki.

Pelan tapi pasti kata-kata itu mulai keluar dari mulutku. Manusia tidak pernah tau apa yang ia katakan apakah benar-benar merupakan isi hatinya. Hanya keyakinan menjadi pegangannku. Jauh disana, dihatiku, telah tersedia tempat, hanya sebuah. Keyakinan bahwa akan ada seorang hawa yang akan mengisinya. Keyakinan ini pun menghapus keraguan. Kata-kata itu menjadi penyambung pesan dari tempat yang kosong itu kepadanya. Keyakinan bahwa dialah sang hawa yang akan menduduki singga sana di tempat yang kosong. Mengubahnya dari tempat kosong menjadi terisi. Pesan itulah yang ingin disampaikan kata-kata yang begitu pelan tapi manis terucap. Kecupan itu akan mengawali semuanya.

Terima kasih telah memeberikan kepercayaan untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik untukmu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2012 in Jejak selangkah

 

Tag: , ,

Minggu Pagi

Mari kita sedikit merenung dengan apa yang terjadi pada awal hari ini.

Setidaknya seminggu yang lalu diawali sms dari adiknya yang menanyakan apakah aku jejaring disana atau tidak. Sehari berikutnya sms nya pun sampai dengan pertanyaan yang sama. Tidak ada jawaban yang pasti yang aku dapat saat bertanya alasan untuk pertanyaan itu. entah kenapa langsung kutelpon dan ku buat jadwal. Aneh untuk mengiyakan ajakan tanpa alasan. Khayalan liar mulai memenuhi ruang di kepala ini.

Ditunggui di depan rumah sakit menjadi awalnya. Serius benar sampai menunggu di depan rumah sakit. Tapi sudahlah. lanjut mengikutinya menuju istana kecilnya. Berharap rantai motor tidak lepas sekarang. Sampai didepan rumahnya bokapnya langsung menyapa dan membukakan pintu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Kalau aku jadi beliau pasti semua gambaran burukku akan ada. Siapa coba yang juari pagi-pagi bertamu datang bersama anaknya. Melali. Hanya hal itu alasan yang aku pegang.

Masuk ke istana kecilnya diantar nyokapnya menambah fantasi liar di otakku. Pria macam apa yang dibawa anaknya. Aku juga berpikir, aku harus menemukan alasan yang lebih baik dari pada melali.

Namun sampai akhir, alasan yang ku miliki untuk ke rumah itu adalah melali.

Terima kasih…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Agustus 2012 in Jejak selangkah

 

Tag: