RSS

Dunkin’ Donat

30 Jun

Secarik kertas pernah terbaca isinya olehku yang terselip diantara meja dan kaca yang menutupinya. Hidup adalah pembelajaran dan kerja keras. Demikian isinya. Ini menjadi sebuah filosofi yang begitu merasuk dalam hidupku. Tentu itu bukan motto dalam hidupku. Sebuah filosofi cukup untuk menjadi alasan bagiku untuk mempelajari semua hal yang dapat ku pelajari setiap detiknya aku bernafas dalam hidup ini. Mempelajari cara menikmati keindahan dunia, sampai menetralisir kemurkaan dunia padaku. Tak jarang pula dalam kekalutan ku juga belajar bagaimana membuat orang menangis untuk merasakan indahnya tersenyum. Pembelajaran itu ku lakukan tuk mempersiapkan hidupku dalm dunia yang sebenarnya, walaupun aku sendiri tidak mengetahui bagaimana dunia sebenarnya. Masa lalu, trauma, dan kisah pahit yang ku alami kujadikan alasan kedua untuk pembenaran dari apa yang kulakukan.

Special Study merupakan sebuah blok dalam masa perkuliahan ini yang menuntut pembelajaran mandiri dalam mencapai tujuan. Belajar mandiri dalam menentukan seberapa banyak hal yang ingin diketahui dan dimana tempat kita akan mulai belajar. Tak lebih dari sepuluh menit merupakan waktu yang singkat untuk pertemuan dosen dan mahasiswa. Ku maklumi itu karenqa beliau seorang spesialis obgyn yang ahli. Dengan langkah lunglai ku keluar bersama kelima temanku yang lain. Memfotokopi modul merupakan jadwal selanjutnya.

Tiga, empat dan lima halaman ku screening setiap bab yang ada di modul itu. Kuyakinkan diriku tuk menemukan sebuah tempat yang mampu memberikan sesuatu yang lebih saat mulai membaca modul itu. Sejak emapt hari ini kua sangat ingin pergi ketempat itu. Kuputuskan tempat itu tujuankua dalam lima belas menit kedepan. Kuyakinkan sebelum sifat plin-plan ku kumat.

Dengan sedikit merapikan lengan baju kemeja yang terlipat ku pastikan diriku tak terlalu buruk untuk masuk ke tempat itu. Salam selamat siang segera menyapaku dengan senyum yang berseri-seri, sebuah servis yang terbaik bisa diterima seorang pelanggan yang ingin belajar. Tentu sebagai mahasiswa kelas menengah-kebawah mengharapkan akan ditawarkan voucer makan gratis ato karena aku merupak pelanggan ke-100 pada hari itu, maka akan diberikan laptop karena aku memerlukannya. Kulangkahkan kaki menuju meja kasir yang akan membatasiku dengan pelayan yang begitu cantik dan berpakain sungguh menggoda walau mereka terliahat cukup dewasa bahak mendekati, maaf, tua. Sebuah minuman coklat hangat kupesan setelah dengan jelalatan melihat menu yang terpampang diatas pelayan itu.

Sambil menanti minuman ku datang, kupelajari seluk beluk tempat ini dari tempak aku duduk. Sebuah tempat yang menyediakan makanan khas Amerika yang terbuat dari dari tepung yang dibentuk bulat dengan bolong ditengahnya. Tapi aku tak memesan roti itu karena kupikir uangku tak akan cukup mengenyangkan perut ini. Sebuah tempat yang berada di persimpangan paling tersohor di Jalan Teuku Umar karena dari sini ku mampu melihat enam simpang sekaligus walau tehalang dengan mobil-mobil mewah yang dengan setia menunggu si empunya. Dalam filosofiku, disini aku akan belajar sebuah persimpangan yang ku sebut dengan “kebiasaan yang tak biasa”. Keyakinan tuk mendapat suasana lebih dalam belajar.

Minuman hangat datang ditemani pelayan yang begitu cantik dan seksi. Setelah kukeluarkan uang tuk membayarnya, minuman hangat itu segera ku nikmati kelezatannya. Dengan tambah gula minuman itu kembali begitu nikmat. Seandainya sang pelayan memiliki waktu tuk duduk dihadapanku, tentu akan lebih “ajip”. Kulanjutkan demi halaman mulai mengisi penglihatanku.

Kejenuhan mulai kurasakan setelah lima halaman terlewat. Kembali kunikmati coklat hangatku yang masih hangat. Kualihkan pandanganku pada orang-orang sekitar. Didepanku terdapat dua orang yang lebih dulu dariku. Dengan arloji yang kutafsir harganya lebih dari satu juta. cicin yang menandakan mereka bukan dari kelas ekonomi yang sama dengan ku. Pembicaraan mereka yang secara tak sengaja kudengarkan begitu jauh dari apa yang kau ketahui. Mereka membicarakan bisnis yang terlihat sudah menjadi rutinitas mereka. Setelah hening sejenak, mereka pun pergi dari tempat ini. Mungkin keperluan mereka telah usai, tidak denganku, kulanjutkan membaca buku.

Seorang pelayan mengusik pandanganku dengan menghantarkan pesanan ke dua meja didepanku. Seorang pri paruh baya yang telah sebelumya memesan. Laptop pun segera dikeluarkan setelah menyurumput minuman yang dipesannya. Begitu asiknya dia bermain dengan laptopnya membuatku membayangkan nikmatnya menikmati layanan hot spot yang ditawarkan di tempat ini. Ku pikir bila aku memiliki sebuah laptop tentu akan memberiukan kesempatan untuk ku membuka dunia lebih luas untuk pembelajaran dalam hidup ini, bahkan membuka usaha di dunia maya seperti kerja keras temanku.

Pengunjung tampak tidak canggung dalam ruangan itu. Seakan-akan mereka bercerita bahwa mereka biasa menikmati kudapan siang ditempat ini dengan obrolan bisnis. Mulai dari tanah yang akan dibeli sampai pasar bursa mobil mewah. Lahap demi lahap donat dimasukan ke dalam mulut setelah sebelumnya dipotong dengan pisau garpu, sungguh terlihat mewah. Dengan perut buncit sebagai aksesoris, mereka terlihat begitu wah dengan lakon gaya hidup seperti ini. Tak sesekali supir pun ikut serta menikmati kopi susu, walau saat bosnya sedang berbicara dengan partner ia harus menyingkir satu meja disebelahnya. Tato dilengan tak ayal membuatku takut saat melihat salah satu pengunjung ditambah tubuh yang gempal berisi. Tak lupa aksesoris perut. Namun orang itu tetap terlihat anggun dan sopan, mungkin ia telah terbiasa dengan tempat itu. Kuperhatikan pula begitu banyak orang keluar dari tempat itu yang membawa kotak selusin atau dua lusin donat.

Pelayan-pelayan mungkin disuguhkan untuk menghibur para pengunjung pria. Dengan balutan pakaian yang relatif ketat karena terbuat dari kain katun. Warna yang yang menyala tentu menarik perhatian dengan motif bunga-bunga yang menyemarakkan suasana. Sesuatau yang tak kalah menarik tentu adalah tinggi dari rok yang mereka kenakan. Bila diizinkan mengukur mungkin itu sekitar dua telapak tangan diatas lutut. Kadang-kadang hal seperti itu perlu untuk cuci mata bagi kaum adam sepertiku. Tetapi sebaiknya jangan terlalu menatap wajah mereka, selain merekanya jadi malu, wajah mereka tidak ada yang imut-imut. Betis-betis itu mengindikasikan mereka begitu merawat diri. Dengan tambahan sepatu ket menambah kesan sporti dari pelayan-pelayan itu.

Lebih dari itu semua, hari ini ke telah belajar bagaimana menjadi orang kaya. Tidak canggung saat berada di tempat mewah. Merasakan keglamoran dalam suasana menikmati kudapan siang. Sungguh persimpangan yang mengajarkan arti hidup dari susut pandang mereka. Kerja kerasku ku pacu untuk menjadi mereka. Bukan bermaksud, tapi ku ingin lebih dari sekarang. Sebuah harga mewakili rasa terima kasih ku pada tempat itu. Tiga jam dengan dua minuman yang seluruhnya seharga Rp25.000,00. Untung saat keluar tidak ada yang menagih uang parkir. Sepertinya uangku sudah hampir habis.

18:02 30/06/2009

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Juni 2009 in Jejak selangkah

 

Tag:

One response to “Dunkin’ Donat

  1. sulis

    3 Oktober 2012 at 00:23

    T.O.P abis dah….
    Terkadang tuhan menunjukkan jalanny melalui orang yang kita jumpai atau tempat yang kita kunjungi tetapi terkadang kita sebagai manusia tidak menyadari hal itu…..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: