RSS

Proses Pembelajaran dan Pendewasaan

18 Jan

Akhir tahun 2010, tepatnya tanggal 26 Desember 2010, merupakan momentum yang menarik bagi saya. Hari itu dilaksanakan Muspanitra Cabang Denpasar 2010. Sebuah Musyawarah yang dilakukan oleh pramuka tegak/dega se-kota Denpasar. Sebenarnya bukan isi dari musyawarah ini yang membuat saya takjub, namun bagaimana perjalanan saya di organisasi ini sejak diawal ikut serta sampai hari itu saya mendapatkan status demisioner untuk jabatan yang saya emban.

Proses pembelajaran dan pendewasaan sebenarnya dapat dilakukan dan didapat dimanapun dan kapanpun. Menurut saya pembelajaran adalah proses yang yang sangat panjang dan terkadang akan sangat berkelok-kelok. Pagi hari kita terjatuh ke jurang yang begitu dalam dan sakit, sedangkan malam harinya kita melihat bulan yang begitu indah dengan halo disekelilingnya. Atau mungkin hari ini kita merasa paling bisa tuk melakukan suatu hal, namun minggu selanjutnya kita harus melihat pekerjaan yang tak pernah kita sentuh apalagi kita lihat. Sesingkat itu dalam kata, sependek itu dalam ucapan, namun sepanjang lautan lepaslah bila kita ingin mendiskusikannya.

Pendewasaan juga merupakan sebuah langkah untuk mengerti tentang hidup ini. Saat itu kita adalah seorang anak kecil yang setiap harinya dimarah oleh orang tua karena makan permen terlalu banyak. Hari ini kita mengerti mengapa orang tua marah kepada kita. Permen hanya makanan yang manis dimulut saja, manis saat kita mengunyahnya. Jika kita tidak mampu melihat sisi buruk dari permen, kita akan selalu merasa benar dan tak pernah bosan untuk kecewa terhadap orang tua. Jika kita sejak kecil mengerti mengapa kita memarahi kita, masihkah kita pantas kecewa terhadap orang tua?

Awal momentum proses pembelajaran saya dimulai saat saya menjadi panitia pelaksana LT 3. Sebuah lomba tingkat yang pesertanya adalah regu penggalang terpilih dari kwartir ranting tempat mereka berasal. Ada seorang yang juga panitia sangat menarik perhatian saya. Kakak itu bernama K’Paulus. Saat ada orang yang meminta tolong padanya untuk melukan sesuatu, pasti dia siap untuk membantu. Apapun permintaannya, dia akan menjawab siap terlebih dahulu sebelum melakukannya. Jikalau memang dia belum mampu untuk melakukan hal yang diminta, dia akan selalu meminta petunjuk untuk melakukan hal itu. Karena dia ingin belajar.

Saya teringat akan sebuah kegiatan yang benar-benar menjadi awal dari proses pembelajaran itu. Dianpinsat Cabang merupakan kegiatan tegak/dega kwartir cabang Denpasar. Sebelumnya saya tidak pernah ikut apalagi menjadi sangga kerja di kegiatan pramuka. Kemah di sekolah SD tampaknya belum bisa disebut pernah. Saat itu saya sudah kehilangan akal untuk mengelak menjadi pembawa acara, malam api unggun. Koor sie acara saat itu, K’Tama entah dimana rimbanya. Teman yang saya ajak, K’Ariek sudah migren, entah karena membawa acara atau memang lagi kumat saya tidak tahu. Alhasil saya mendapatkan posisi mental saya sangat-sangat-sangat dibawah, terlalu dibawah untuk disebut sebagai titik nadir pembunuhan karakter. Namun, malamnya tak bisa saya dilupakan. Saya berhasil meyakinkan pendamping kiri dan kanan untuk menyatakan kalau saya mampu mengemban sebuah tanggun jawab. Akhirnya pada malam itu saya meletakkan sebuah simbol tanggung jawab yang tidak main-main di pundak saya. Sebuah simbol yang menjadi tanda untuk memulai sebuah proses itu.

“Sore harinya saya merasa ditempa dengan besi yang begitu panas, dini harinya saya dipercaya mampu mengemban sebuah tanggung jawab, paginya saya berdiri tegak sebagai pramuka penegak bantara.”

Proses demi proses saya jalani. sampai akhirnya saya menjadi Dewan Kerja Cabang Denpasar periode 2007-2010. Harus diakuai bahwa saya gagal di gugus depan ataupun di pangkalan, SMAN 4 Denpasar. Ketidakmampuan saya di bidang regenarasi dan pencarian anggota membuat saya malu. Sebuah pangkalan yang membesarkan saya, saya tinggalkan tanpa sebuah jejak kebanggaan. Proses pembelajaran itu selalu berputar.

Di tengah saya menjabat DKC, diadakan Muspanitra Daerah. Musyawarah untuk memilih anggota DKD Bali. Salah satu orang yang terkenal namanya di pramuka T/D Daerah Bali adalah K’Krisna, Ka. DKC Denpasar. Namanya masuk kedalam bursa anggota DKD Bali. Saat itu hampir semua anggota DKC Denpasar tidak ingin dia menjadi anggota DKD. Alasan saya saat itu adalah masalah regenerasi kepemimpinan. Saya pribadi belum mampu melihat sosok yang mampu menggantikan posisinya. Masih banyak program kerja yang harus dikerjakan. Kami tidak ingin gagal menjalankannya hanya karena tidak memilki ketua yang handal. Jalan pintas kami berujung pada sebuah surat pernyataan yang kami layangkan ke komisi formatur saat itu. Dan akhirnya K’Krisna tidak menjadi anggota DKD Bali dan tetap menjadi Ka. DKC Denpasar. Kami pikir permasalahan ini sudah berakhir. Beberapa harinya kami diajak rapat bersama dua andalan. Andalan yang saat itu hadir adlah K’Budi dan K’Sony. Awalnya rapat membicarakan kegiatan yang akan kami lakukan, namun ternyata rapat saat itu digunakan sebagai refleksi untuk apa yang telah kami lakukan.  Mereka memberikan pemahaman kepada kami, anggota DKC, bahwa apa yang kami lakukan kurang tepat. Secara aturan kami salah, secara teknis kami tidak benar. Yang kami miliki hanya lah kemauan yang kuat semata. Kemauan yang penuh emosi tanpa melihat lingkungan dan aturan yang berlaku. Sebagian warna pada hari itu telah memberikan pendewasaan bagi saya.

“Terkadang kita harus melihat sesuatu dari dua sisi yang berbada. Sisi saat ini kita berdiri, penuh keegoisan. Sisi bagaimana lingkungan melihat apa yang kita inginkan, dengan aturan dan norma. Karena dengan sisi yang berbedalah kita mampu melihat bahwa semua hal memiliki kebaikan dan keburukan. Bijaksanalah.”

Hari ini kita mendapatkan warna kehidupan yang beragam. Ada yang dengan warna cerah mendatangi kita, adapula dengan warna mencolok menyakitkan mata untuk dilihat, bahkan dengan yang masam kecut mengingatkan kita tentang sakitnya hati ini. Sempatkanlah pada sebuah menit pada hari itu untuk merenungi warna-warna itu. Pilah-pilah yang mana warna yang akan kita taruh digaleri keindahan, warna mana yang akan kita suguhkan sebagai sebuah proses. Proses untuk selalu belajar dan menjadi dewasa. Karena yang paling bisa untuk melakukan itu adalah diri kita dan seberapa dewasa kita hari itu.

“The past is in your head, the future is in your hand.” Apa yang telah terjadi hanya ada di kepala, biarkan daya nalar ini memprosesnya atas nama pembelajaran dan pendewasaan, dan percayalah untuk membiarkan tangan ini meraih masa depan kita.

Musppanitera_A_018-1

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2011 in Jejak selangkah

 

Tag: , ,

2 responses to “Proses Pembelajaran dan Pendewasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: