RSS

Anak dan Perasaan

29 Agu

“Aduh… Aduh…”, itulah kata-kata yang terdengar olehku saat menbuka mata pagi ini. Seketika aku bangun dengan mata yang masih terlalu berat untuk dubuka. Tentu saja sangat berat. Kemarin malam tertidur pukul 1 pagi dan terbangun pukul 5 pagi. Kebiasaan mencari informasi dan menikmati hiburan di dunia maya membuatku betah di depan laptop dengan modem ditemani lagu-lagu yang membuatku lebih tenang.

Tampaknya atma ku belum dateng seluruhnya. Setelah kijap-kijap beberap menit baru aku sadar yang membangunkan aku adalah ibuku. Ah, tentu saja dia, tidak ada orang lain selain aku dan ibuku. Dia mengaduh karena perutnya sakit. Aku pikir sakit perut yang biasa. Kemudian dia bertanya, “Tu, bole minum spasminal?’” Setelah beberapa detik berusaha mengerti apa yang diusapkan, sekedarnya aku menjawab, “boleh.” Tampaknya raga ku belum mampu bangun, dan dengan seketika tidur kembali setelah menyadari alarm seharusnya berbunyi pukul 06.30.

Sekelumit kisah pagi hari yang akan memberikan bagaimana aku menjalani dan mood yang akan menyertai hari ini. Tugas sebagai anak tampaknya tidak mengenal waktu. Di saat seperti ini tentu aku rindu ada orang lain di rumah ini sehingga aku tidak sendiri menjalankan kewajiban di rumah ini, Menjadi anak tunggal yang ‘”sendiri” tampaknya men-double-kan kewajibanku. Namun itu toh merupakan “swadharma”-ku menjadi anak. Aku hanya berharap mampu menjalankannya dengan baik. Sebuah kewajiban yang tidak meminta mood untuk menyesuaikan diri. Walaupun mood ku akhir-akhir ini begitu super duper HanCur…

Dengan mata 15 watt ku awali hari dengan membuat teh segelas besar untuk ibuku. Berharap akan mengurangi sakit perut dan menggantikan cairan yang hilang akibat diare. Setelah melakukan anamnesis singkat kupikir penyebab diare ini adalah makanan yang ibuku makan kemarin, sayur ares dan lauk babi. Kemarin ibuku memang membantu tetangga yang ngodalin. Tekanan darah relatif normal, nadi rendah namun masih batas normal, ku pikir wajar untuk yang baru mengalami diare. Karena masih dimulai beberapa jam lalu, kupikir dibiarkan diare berlangsung agar racun yang ada di usus keluar secara fisiologik dulu. Karena mengeluh kesakitan, maka kupanaskan air dan kumasukkan ke botol agar bisa digunakan mengkompres perutnya. Aktivitas berlanjut ke dapur untuk menyiapkan makan pagi…

Dengan mata 10 watt melakukan sebuah rutinitas yang wajib untuk memulai hari di rumah ini; membersihkan rumah. Namun saat setengah terlaksana, mata ku melirik ke jam satu-satunya jam dinding yang ada si ruang keluarga, pukul 09,03. Tampaknya aku harus mengubah beberapa rencana. Jadwal ku hari ini adalah kursus mengemudi pada pukul 10,00. Dengan seketika rutinitas sapu-ngepel harus kuubah manjadi mode instan. Set…Set… Tara… Pukul 09.32 selesei juga. Bergegas mengambil handuk, namun terhenti karena harus kembali membuatkan ramuan teh oralit. Kebetulan ibuku diare lagi. Dengan mata 7 watt, masuk ke kamar mandi.

Kursus menegemudi kuambil pada liburan ini sebagai penggganti kegiatan kampus yang ditunda pelaksanaannya. Kursus mengemudi merupakan salah satu cara agar harapan ibuku yang sudah renta ini tercapai. Karena sudah tua, maka tampaknya mengendarai sepeda motor untuk ke kampung sangatlah meletihkan. Sebuah tanggungan hidup juga kan. Walau dengan agak miris aku berpikir, saat ini, toh belum memiliki mobil pribadi. Namun itulah sebuah kewajiban. Kewajibanku. Dalam doaku, semoga perasaanku baik-baik saja tuk hari ini.

Perasan tampaknya menyumbangkan bagaimana kita berperilaku pada saat itu. Harus ku akui perasaanku tiga hari ini sangat-super-duper HanCur. Tapi apa pun itu tampaknya ibuku tak harus mengetahui, apalagi mendengar keluh kesal ku. Perasaan yang langsung berdampak pada mood. Mood yang seperti ini membuat suaraku lebih keras dari biasanya. Anggap saja sedang latihan vokal. dan tentu ibuku pun protes.

Sore hari ibuku belum juga membaik. Sudah berapa gelas teh oralit yang aku buat. Obat tampaknya terlambat diminumnya. Tampaknya yang satu itu aku tidak bisa komentar banyak. Mana mungkin aku rewel mengingatkan minum obat pada seorang perawat. Aku hanya berharap esok subuh ibuku sudah membaik. Paling tidak sudah berani aku tinggalkan. Walau sampai sekarang masih mengeluh mencret dan sakit perut seperti terjadi spasme usus.

Seandaianya perasaan ku tidak “biru” begini, mungkin hari ini dapat kulalui dengan lebih baik. Seminggu yang lalu aku berharap ada orang yang mampu menjadi teman saat aku melalui ini. Bagi orang lain, ibu sakit tampaknya bukan hal yang aneh maupun fantastis. Seorang anak tunggal, tinggal hanya berdua dirumah, ibu yang sudah pensiun, ditambah perasaan yang tidak menentu (lebih tepatnya hancur), tampaknya menjadi guratan untuk kisah hari ini, Salah ku juga, terlalu senang seminggu lalu karena dia, meratapi semua ini sendiri.

Izinkan aku menuntut pada Tuhan agar diberikan jalan yang terbaik saat aku nantinya menjalani profesiku sebagai dokter. Ku harap saat itu aku mampu menjalankan “swadharma”-ku sebagai anak dan sebagai dokter yang profesional.

Crying face

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Agustus 2011 in Guratan Kisah

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: