RSS

Dilema Esok Hari

19 Nov

Semester 7 ini tampaknya memberikan waktu padaku untuk berpkir sejenak bagaimana jalan kehidupanku selanjutnya. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, teteapi materi-materi yang diberikan di blok semester ini tampak tidak membutuhkan waktu yang terlalu banyak untuk dipelajari. Pulang tidak lebih dari pukul 15.00 sudah menjadi rutinitasku sejak awal semester ini. Pulang malam hanya kulakukan bersama teman-teman saat akan bertarung di dalam sebuah ujian. Pulang lebih awal seperti itu memberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan rumahan yang biasa dilakukan oleh ibuku. Pekerjaan itu mulai dari menyiram halaman, menyapu, sampai dengan membuat lantai rumah lebih mengkilap hingga dapat digunakan untuk melihat wajah ku. Ibuku tampaknya terlalu rajin karena kegiatan itu harus dilakukan dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Tampak seperti olahraga.

Melihat pekerjaan rumahan yang cukup meletihkan membuatku bertanya, apa jadinya bila nanti setelah menamatkan pendidikan dokter aku pergi untuk PTT. Pergi dan mengabdi di daerah terpencil selama minimal setahun tampaknya bukan sesuatu yang sederhana. Bukan apa yang akan aku hadapi disana, namun apa yang kutinggalkan di rumah. Sebenarnya sewaktu SMA aku sudah sering meninggalkan ibu sendiri dirumah. Bayangkan saja, sekolah di SMA yang dikatakan selama “6 tahun”, pergi pagi pulang petang. Sedikit sekali waktu yang kuluangkan dirumah, apa lagi untuk pekerjaan rumahan atau sekedar bercerita tentang berbagai hal bersama seisi rumah. Hanya hari Minggu yang kosong. Bila melakukan PTT tentu aku akan berlaku lebih buruk dari yang kulakukan saat SMA. Ditambah lagi kesehatan ibuku yang tidak seperti dulu lagi, Kalau sudah sakit akan membutuhkan beberapa hari untuk kembali beraktivitas. Sekarang umur ibuku sekitar 58 tahun, akan makin sulit untuk melakukan segalanya sendiri. Bagaimana kalau kesehatannya memburuk seperti beberapa bulan lalu terjadi lagi, apa yang bisa kulakukan di dunia perantauan entah dimana itu nanti. Bagaimana pula jika terdapat berbagai kewajiban yang harus dilakukan ibuku yang berkaitan dengan masalah adat, tentu ia tidak lagi dalam keadaan yang begitu tegar saat akhir tahun 2004.

PTT tampaknya menjadi sebuah pilihan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang kugeluti bersama ibuku. Salah satunya adalah hutang yang cukup banyak tanpa penyelesaian yang pasti sampai sekarang. Kupikir, layaknya cerita kakak temanku yang mendapatkan gaji 8 juta rupiah per bulan, akan membantuku untuk menyelesaikannya. Selain itu cita-cita untuk menjadi dokter spesialis akan sedikit terbuka karena untuk meraih cita itu membutuhkan tabungan yang tidak sedikit. Dulu, saat setamat dari SMA pernah ku melamar di sekolah perhotelan karena kuingin berlayar untuk menuntaskan permasalahan ini, namun setelah berpikir, aku membuang kesempatan itu. Waktu yang kuhabiskan di FK UNUD tampaknya lebih banyak memberikan kesempatan padaku untuk diam dirumah ketimbang mengambil pilihan sekolah lainnya yaitu STAN. Semua itu memilki domain tentang orang yang harus kutinggalkan saat aku pergi. Bukan karena kasihan, lebih kepada tanggung jawab.

Tanggung jawab ini begitu berat terasa. Ingin ku seperti salah satu temanku yang juga kehilangan ayahnya. Walaupun begitu kehilangan, ia masih memiliki adik yang cukup diandalkan. Setidaknya untuk tinggal dirumah menemani ibunya.

Walau hari ini aku masihlah semester tujuh, namun pikiran tentang masa depan harus terpikirkan dari sekarang, Pekerjaan bagi kaum dokter adalah mengabdikan diri kepada masyarakat dan mereka yang membutuhkan. Diluar pekerjaan itu, aku tetaplah seseorang yang terlahir dengan tanggung jawab. Harus ada solusi dari permasalahan tanggung jawab ini. Bila bukan aku siapa lagi. Tugasku di dunia perkuliahan adalah mencari ilmu sebanyak mungkin untuk menjadi dokter yang baik. Tugasku dirumah adalah melakukan swadharma menjadi seorang anak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2011 in Guratan Kisah

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: