RSS

Juara, So whatzzz…?

17 Des

Terbangun karena hujan yang lebat sebenarnya bukan hal yang spesial. Segera kulihat jam dan ternyata menunjukkan 7.30. Setelah menyatukan roh dan diriku, akhirnya aku sadar kalau hari ini hari libur dan sah saja bila terbangun begitu siang. Setidaknya aku masih harus berterima kasih pada lebatnya hujan karena membuatku tidak menerima cercaan yang tidak mengenakkan karena bangun begitu siang. Namun tetap saja hari ini kupikir tidak ada spesial karena tidak ada memori yang terekam jelas tentang 17 Desember.

Pagi menjelang siang mood-ku untuk menuntaskan pekerjaan rumah pun datang. Selalu mood yang kujadikan alarm untuk memulai hari. Jika mood-ku tidak baik, konsekuensinya suruhan yang begitu banyak akan datang tanpa pernah akan mengambilnya. Hari Sabtu ini kumulai dengan mencuci kamar mandi dan dilanjutkan dengan ritual sapu-ngepel, sebuah ritual yang dilakukan dua kali sehari. Dengan mood yang baik tentu melakukannya sepenuh arti. Namun tidak ada pertanda hari ini akan diisi perayaan suatu hal yang istemewa.

Mendekati tengah hari beberapa anak SD melintas di depan rumah. Mereka mengenakan pakaian olahraga, mengindikasikan mereka tidak sedang melakukan proses belajar-mengajar seperti biasa. Sekilas siluet kesenangan diperlihatkan oleh wajah mereka. Bersama teman-teman untuk menuju rumah adalah hal yang menyenangkan bagi mereka, kupikir hanya itu.

“Sudah pulang? ‘Gmana hasil raport nya Tu Diah? Komang gmana hasilnya? Dapet juara?’”, tanya ibuku pada tetangga depan rumah. Tu Diah dan adiknya terlihat baru saja dari sekolah sambil menenteng raport.

“Gak dapet juara, Nek…”, Tu Diah menjawab sekedarnya dan langsung masuk kerumahnya.

piala1

Tersadarlah kalau hari ini adalah penerimaan raport bagi pelajar SD, SMP, dan SMA di Bali. Terpikir kalau libur panjang sedang menanti mereka. Waktu yang akan mereka buang dengan penuh kebahagiaan bersama teman-temannya. Sungguh mengasyikkan jika ingin dibandingkan dengan diriku yang sekarang berstatus mahasiswa. Namun bukan itu yang membuat hari ini begitu berkesan bagiku. Setidaknya bukan libur panjangnya.

Pelan-pelan pikiran ku melayang kemasa dimana aku masih duduk di bangku SD. Sekolah Dasar ku tidak lah sama dengan murid yang baru saja lewat didepan rumah. SD Negeri 6 Tuban adalah sekolah yang luar biasa. Butuh waktu sekitar 20 menit dengan mengendarai sepeda gayung untuk mencapainya dari rumah. Tidak banyak teman yang tinggal dekat rumah yang bisa aku ajak sekolah bersama. Masa enam tahun di sekoah itu tentu menjadi bagian tersendiri dari cerita besar kita menjadi manusia. Disana kita pertama kali mengenal tentang persahabatan dan permusuhan yang juga diakhiri persahabatan. Tempat itu juga mengajarkan tentang kompetisi yang pasti memiliki pemenang. Walau disebut pemenang belum tentu menjadi pemenang dalam dirinya. Instingku akan ada sesuatu yang tidak mengenakkan yang terkenang.

Kompetisi di sekolah dasar pada dasarnya bukanlah sesuatu yang serius. Namun peran orang tua atau orang sekitar sering membuatnya begitu kuat peranannya dalam membangun mental si anak itu sendiri. Saat kompetisi itu diakhiri dengan tiga orang menjadi juara tentu akan makin berasa kompetisi itu. Jika aku bukanlah diriku saat itu mungkin akan terasa ringan kenangan yang teringat.

Selalu menjadi juara pada setiap pengumuman kenaikan kelas tentu menjadi hal yang bagi sebagian anak sebagai sesuatu yang membanggakan. Namun saat sang anak menerima reward tidak merasa menjadi pemenang apa jadinya. Tiap tahunnya namaku selalu disebutkan dalam tiga orang yang meraih juara. Juara 1, 2, dan 3. Hanya dua kali aku tidak mendapatkan juara 1. Namun saat pemeberian piagam, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Saat anak-anak lain mampu membagi kebahagiaan dengan orang tua saat itu juga, aku tidak bisa. Kesendirian itu pelan tapi pasti mulai terasa hingga kini.

Saat penyerahan piagam juara, orang tua dari anak akan berada dibelakangnya. Dan dibelakang ku, tentu saja hanya ada guru wali kelasku. Bagaimana aku bisa membagi kebanggaanku saat itu pada orang tua. Hingga hari ini aku selalu menilai gelar juara yang aku peroleh tidak lebih dari sekedar apresiasi keegoisan orang yang mendidik ku dirumah. Harus pulang berjalan sekitar 15 menit untuk sampai ke kantor ibu untuk membagi semuanya. Anak lain yang begitu terlihat senang dengan apa yang mereka raih, sedangkan aku begitu biasa menerima semua ini. Seakan-akan tidak ada hal yang istimewa yang terjadi saat itu. Sebuah kebiasaan yang menjadi rutinitas yang mendiami dunia tidak sadar. Kenapa anak lain bahagia saat itu, aku tidak.

Menggambarkan kesediahan itu begitu sulit. Tampaknya orang akan mengatakan kalau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi apakah tiap tahun harus seperti itu? Mungkin ada usaha besar yang mereka telah lakukan untuk diriku mendapatkan itu semua. Namun apakah tidak bisa disana bersamaku membagi semua itu? Paling tidak menjemput dengan senyuman mungkin akan membuat kekecewaan ini tidak mendekam dalam ingatan masa lalu ku. Sebuah gambaran kecil yang menjadi fondasi struktur bangunan yang begitu besar nantinya. Hal itu menjadi teringat benar.

Setidaknya hal itu terjadi hanya saat sekolah dasar. Saat SMP dan SMA begitu senangnya tidak lagi memendam kekecewaan. Tidak menjadi juara terkadang menjadi tertawaan bagi ku sendiri karena tidak perlu merasakan hal itu lagi. Tentu selain kemampuanku memang rendah saat itu. Hanya sebatas rata-rata.

Motto ku dalam hidup adalah the past is in your head, the futture is in your hand. Semoga apa pun yang ada dikepala ku selalu tercemin pada semua usaha ku mencapai cita dalam bentuk yang baik. Kekecewaan masa lalu mungkin tidak bisa dilupakan. Bahkan yang buruklah yang kita ingat tentang masa lalu. Namun semua itu hanya kita yang mengetahui dan memahaminya. Pemahaman itu akan selalu kita bawa untuk menunjukkan kita mampu bertahan saat yang terberat dalam hidup kita datang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Guratan Kisah

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: