RSS

Saksi

01 Des

Malam sebenarnya tak begitu dingin. Hembusan angin ini sejatinya bukanlah pencari kehangatan. Suatu hal patut dipersalahkan untuk alasan mengapa hati ini begitu terasa ingin merasakan hangat. Gelapnya malam tidak pernah membutakan. Perasaan ini yang mampu membutakan. Gemgaman ini menguatkan tuk percaya kehangatan ini kuperlukan. Gemgaman ini menjadi penuntun dari hati yang telah dibutakannya. Sebuah gemgaman yang menghapus ruang kosong di telapak tangan.

Langkah begitu terasa pelan. Berusaha merasakan kehangatan yang begitu tersirat dalam dinginnya malam. Mungkin sengaja diperlambat untuk bisa saling memahami bagaimana nantinya akan melangkah. Bukan kehati-hatian, namun merasa milik dirinya dan diriku terasa begitu indah. Jejak empat langkah itu terlalu sempurna meninggalkan bekas di pasir yang halus itu. Langkah awal untuk membawa kedua insan ini meyakinkan diri akah kehangatan itu.

Sesekali pandangan rona kemerahan pasti akan menampakkan diri jika saja malam tidak begitu gelap. Hanya lampu merkuri kuning yang memberikan siluet indah wajahnya. Lekukan di bibirnya begitu mempesona. Bukan senyum senang, namun lekukan yang ku yakin memeberikan kenyamanan bagi yang melihatnya. Sungguh aku menikmati senyuman itu.

Tampaknya suara deburan ombak ikut andil dalam menjadi saksi. Terdapat dua bintang yang pernah kami beri nama. Sungguh arogan melakukan hal itu. Namun, itu lah sebagian dunia yang ingin kami ciptakan. Bulan begitu manis disana. Tak ada yang perlu di deskripsikan untuk hal itu. Tunggal, putih, dan indah. Pohon-pohon yang sedikit bergerak akibat angin tampak begitu senangnya. Saksi-saksi itu tak terlupakan.

Gemgaman itu makin erat. Langkah terhenti seketika. Pandangan itu bertemu untuk sekian kalinya, namun kali ini berbeda. Waktu terasa terhenti dan saksi-saksi seakan menahan nafas. Anak tangga membantu untuk mengutarakannya. sepertinya aku memerlukan itu mengingat kelebihan yang kumilki.

Pelan tapi pasti kata-kata itu mulai keluar dari mulutku. Manusia tidak pernah tau apa yang ia katakan apakah benar-benar merupakan isi hatinya. Hanya keyakinan menjadi pegangannku. Jauh disana, dihatiku, telah tersedia tempat, hanya sebuah. Keyakinan bahwa akan ada seorang hawa yang akan mengisinya. Keyakinan ini pun menghapus keraguan. Kata-kata itu menjadi penyambung pesan dari tempat yang kosong itu kepadanya. Keyakinan bahwa dialah sang hawa yang akan menduduki singga sana di tempat yang kosong. Mengubahnya dari tempat kosong menjadi terisi. Pesan itulah yang ingin disampaikan kata-kata yang begitu pelan tapi manis terucap. Kecupan itu akan mengawali semuanya.

Terima kasih telah memeberikan kepercayaan untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik untukmu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2012 in Jejak selangkah

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: